Ilustrasi kekerasan seksual
Ilustrasi

MATA INDONESIA, JAKARTA – Dengan teknologi komunikasi yang semakin canggih, banyak orang yang menggunakannya secara tak bijak. Kejahatan seksual di media sosial terhadap anak-anak semakin meningkat.

Predator seksual dapat terjadi di mana saja, termasuk di sekitar kitaUntuk predator seksual ini tak ada ciri-ciri yang pasti dan agak sulit terdeteksi. Orang yang melakukan kejahatan seks, seperti pemerkosaan atau pelecehan seksual anak disebut dengan predator seksual.

Predator seksual online, layaknya binatang buas yang sedang mencari mangsa untuk ditangkap dan diperdayai. Para pelaku ini memanfaatkan kelemahan pada anak-anak yang ingin mencobasesuatu baru.

Cara berpikir anak-anak dapat dikatakan labildalam memilih sesuatu yang baik atau tidak. Hal ini menjadicelah bagi pelaku predator seksual online untuk menjalankanaksinya.

Dalam aksinya, para predator seksual online tak ragu-ragudalam memberikan sesuatu yang bisa menarik mangsa. Seperti pulsa telpon ataupun kuota internet agar tetap berhubungan dengan calon korbannya.

Para predator seksual online melakukan aksinya melalui beberapa tahap pendekatan. Awalnya melalui komunikasi chatting.

Kemudian, mereka akan berusaha melakukan pembicaraan melalui telepon. Pada akhirnya mereka mengajak calon korban untuk bertemu langsung.

Saat ini, predator seksual menggunakan aplikasi kencan online yang sangat terkenal dikalangan anak muda. Mereka melakukannya dengan cara melontarkan kata-kata manis lalumemuji kecantikan korbannya.

Lalu adapun foto yang dipampangnya palsu dan informasi yang dikatakan oleh pelakuitu bohong. Maraknya kejahatan seksual, karena biasanyamereka telah bertukar pesan sebelumnya. Lalu, para korbannya pun merasa sudah akrab dengan teman barunya serta rasa percaya yang tinggi terhadap pelaku tersebut.

Salah satu contoh kasus terjadi di Australia. Awalnya korban ingin mencari teman di aplikasi kencan online tersebut. Tetapi iamalah diperkosa oleh seorang pria yang ditemuinya saat pertamakali.

Pria tersebut menampilkan foto profil serta omongan yang menarik perhatian, membuat korban terkesan dengannya. Setelah berkenalan, pria tersebut langsung meminta video dan foto-foto korban tanpa busana.

Korban mengaku telah diperkosa tiga kali dan merasa kesakitan hingga berdarah selama beberapa hari.

Adapun kejahatan seksual yang terjadi kepada anak-anakModusnya predator seksual dengan menjebak anak-anak melaluiakun palsu di sosial media.

Caranya dengan merayu anak-anak tersebut melalui penawaran yang besar seperti menjadi seorangfoto model ataupun lainnya. Setelah itu, mereka diajak bertemulangsung dan pelaku akan melakukan aksinya.

Cara melindungi anak-anak dari predator online antara lain, memantau aktivitas anak di internet, membangun komunikasi dengan anak, memberikan anak tentang pengetahuan seksual, kenali lingkaransosial sekitar dan jelaskan bagian tubuh yang bersifat pribadi.

Terdapat beberapa ciri-ciri predator seksual. Di antaranya menebarkan perhati penuh kepada calon korban, manipulatif, terlalu protektif, suka mengatur, membanggakan dirinya sendiri ataspencapaian terhadap lawan jenisnya.

Reporter: Azizah Putri Octavina

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here