MATA INDONESIA, JAKARTA – Kisah tragis kecelakaan kereta api Bintaro 1987 silam yang kini dikenal dengan ‘Tragedi Bintaro’ menjadi peristiwa yang mengerikan serta menyedihkan.

Peristiwa tragis ini mengisahkan tentang kecelakaan yang melibatkan dua kereta api di daerah Pondok Betung, Bintaro, Jakarta Selatan. Pada 19 Oktober 1987 menjadi musibah terburuk dalam sejarah perkeretaapian di tanah Indonesia. Bahkan kisah ini sampai menjadi perhatian masyarakat dunia. Kejadian ini membuat musisi legend asal Tanah Air terinspirasi untuk membuat lagu tentang tragedi Bintaro.

1910 atau disebut sembilan belas – sepuluh merupakan judul album yang dibuat oleh musisi Iwan Fals. Ia merilis album ini pada tahun 1988, setahun setelah tragedi Bintaro. Judul yang dibuat ini bermaksud untuk mengenang kejadian tragis pada tanggal 19 Oktober 1987, yaitu pada hari dimana tragedi Bintaro terjadi. Kecelakaan yang banyak menewaskan korban ini sempat menjadi perhatian publik karena kecelakaan ini terjadi pada saat jam sibuk masyarakat untuk memulai aktivitasnya. Jam dimana sedang ramai – ramainya masyarakat yang ingin berangkat kerja. Pada saat itu kereta api merupakan transportasi yang paling banyak digunakan.

Dikisahkan dalam lirik lagu 1910 tersebut, Iwan Fals mengawali dengan lirik ‘Apa kabar kereta yang terkapar di senin pagi?’ Mengingat peristiwa naas itu terjadi pada hari Senin pagi. Ratusan korban meninggal dalam peristiwa kecelakaan ini. Lirik yang dibuat oleh musisi legend tersbut sangat tepat, sehingga apabila kita mendengarkan lagu ini kita akan terbawa suasana untuk mengenang tragedi Bintaro. Mau tahu bagaimana liriknya?

Begini lirik lagu ‘1910’ oleh Iwan Fals

Apa kabar kereta yang terkapar di senin pagi
Di gerbongmu ratusan orang yang mati
Hancurkan mimpi bawa kisah
Air mata… air mata…

Belum usai peluit belum habis putaran roda
Aku dengar jerit dari Bintaro
Satu lagi catatan sejarah
Air mata… air mata…

Berdarahkan tuan yang duduk di belakang meja
Atau cukup hanya ucapkan belasungkawa aku bosan
Lalu terangkat semua beban dipundak
Semudah itukah luka-luka terobati
Nusantara, tangismu terdengar lagi Nusantara, derita bila terhenti
Bilakah… bilakah…

Sembilan belas oktober tanah Jakarta berwarna merah
Meninggalkan tanya yang tak terjawab
Bangkai kereta lemparkan amarah
Air mata… air mata…

Oooh… Nusantara langitmu saksi kelabu
Nusantara terdengar lagi tangismu Ho.. ho… ho…
Nusantara kau simpan kisah kereta
Nusantara kabarkan marah sang duka
Saudaraku pergilah dengan tenang
Sebab luka sudah tak lagi panjang

Lagu ini menjadi salah satu bentuk untuk mengenang peritiwa kecelakaan kereta api di Bintaro. Menyedihkan, namun hanya dapat dikenang. Kecelakaan itu kini hanya menjadi cerita sejarah di Tanah Air Tercinta.

Reporter: Reygita

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here