MATA INDONESIA, JAKARTA – Siapa yang tidak mengenal tim sepak bola asal Italia, Juventus? Tim yang menggunakan jersey hitam putih ini mempunyai sejarah yang tidak singkat.

Juventus adalah salah satu klub sepakbola asal kota Turin, Italia. Klub ini memiliki nama resmi Juventus Football Club, biasa disebut Juventus atau disingkat dengan Juve. Tim sepak bola ini pertama kali dibentuk pada tahun 1897, tepatnya pada tanggal 1 November. Awalnya klub ini bernama Sport-Club Juventus dan dibentuk pertama kali oleh siswa dari sekolah di Turin bernama Massimo D’Azeglio Lyceum.

Mereka ingin mendirikan sebuah klub sepak bola untuk mengisi luang dan sebagai sarana rekreasi bagi komunitas mereka. Rasa cintanya dengan olahraga sepak bola menjadi alasan kenapa mereka terus melanjutkan kegiatan tersebut dan terlatih.

Lahirnya Juventus mempunyai cerita tersendiri. Dalam penentuan nama klub ada banyak perdebatan tentang pemilihan nama itu. Sebagian dari kelompok tersebut ingin memberikan nama yang memiliki unsur latin dan akhirnya diadakan voting untuk menentukan nama tersebut, yaitu Societa Via Port, Societa Spotivo Massimo d’Azeglia dan Sport Club Juventus.

Nama Sport Club Juventus yang akhirnya menang dalam voting tersebut. Baru dua tahun berjalan, klub berubah nama menjadi Football Club Juventus. Nama ini yang akhirnya melekat dengan sejarah klub Juventus sendiri. Arti dari Juventus adalah pemuda dalam bahasa latin, karena pada saat itu pemain dalam tim didominasi oleh kaum pemuda.

Di antara pemuda-pemuda itu adalah dua kakak beradik, Eugenio dan Enrico Canfani. Mereka berdua memiliki peran yang sangat besar dalam berdirinya Juventus. Tahun 1905, Juventus memenangkan kompetisi nasional untuk pertama kalinya. Saat itu stadion Juve adalah Velodrome Umberto I.

Perpecahan sempat terjadi di tahun 1906 saat beberapa staf Juve meninggalkan klub dan membentuk klub baru yang kini dikenal sebagai FC Torino. Pertandingan keduanya disebut sebagai derby Turin atau Derby della Mole. Di tahun 1923, Juve diakusisi oleh pemilik FIAT, Edoardo Agnelli.

Kepemilikan oleh keluarga Agnelli ini tetap bertahan hingga sekarang. Juve pun memiliki kondisi finansial yang stabil dan berkembang menjadi salah satu klub terbaik di Italia. Klub ini juga jadi klub profesional pertama di Italia dengan jumlah fanbase yang tersebar di seluruh Italia. Di tahun 30-an, Juve meraih 5 kali gelar juara Serie A beruntun serta menghasilkan para pemain nasional yang berperan dalam kesuksesan timnas Italia menjadi juara Piala Dunia 1934 dan 1938.

Puncaknya Juventus sukses meraih trofi Liga Champions (saat itu bernama European Cup) untuk pertama kali pada tahun 1985. Juve mengalahkan Liverpool di final yang justru lebih dikenang karena Tragedi Heysel. Pemain kunci Juve di periode awal 80-an antara lain adalah Paolo Rossi dan Michel Platini. Rossi sukses jadi pemain terbaik Piala Dunia 1982 dan Platini meraih trofi Ballon d’Or tiga tahun berturut-turut.

Di akhir 80-an, Juventus sempat terpuruk terutama karena kebangkitan Napoli lewat Diego Maradona atau AC Milan lewat trio Belanda. Juventus kemudian pindah ke stadion baru, Delle Alpi sejak tahun 1990.

Tahun 90-an menjadi momen kebangkitan Juventus. Gelar Liga Champions kedua pun diraih di bawah arahan pelatih Marcello Lippi, yaitu di tahun 1996. Juve bahkan sempat lolos ke final Liga Champions dua musim beruntun setelahnya, tapi dua kali pula harus puas jadi runner-up. Para pemain kunci Juve di akhir 90-an yaitu Gianluca Vialli, Ciro Ferrara, Filippo Inzaghi, Antonio Conte, Zinedine Zidane dan ikon klub Alessandro Del Piero. Del Piero kemudian menjadi pemain paling banyak tampil dan paling banyak mencetak gol dalam sejarah Juventus.

Awal 2000-an dijalani Juventus dengan beberapa kali menajdi juara Liga Italia. I Bianconeri juga memecahkan rekor transfer kiper termahal dunia saat membeli Gianluigi Buffon dari Parma di tahun 2001. Juve pun sempat kembali lolos ke final Liga Champions tahun 2003, namun dikalahkan AC Milan dalam final sesama klub Italia. Lippi pun jadi salah satu pelatih tersukses dalam sejarah Juventus.

Juventus mengalami masa sulit yang mengharuskan menerima hukuman degradasi ke Serie B hingga untuk pertama kalinya dalam sejarah Juventus tidak bermain di Serie A Liga Italia karena kasus pengaturan skor.

Dampak terdegradasinya Juve yaitu banyak pemain bintang klub yang pindah ke klub lain, sebut saja Zlatan Ibrahimovic, Lilian Thuram, Fabio Cannavaro, Emerson dan Patrick Vieira. Meski begitu ada sejumlah pemain bintang yang tetap loyal dan setia bermain di Serie B bersama Juventus. Mereka adalah Alessandro Del Piero, Gianluigi Buffon, Pavel Nedved, David Trezeguet dan Mauro Camoranesi.

Setelah promosi, prestasi Juventus di Liga Italia masih kalah dari dominasi Inter Milan antara tahun 2007 sampai 2010. Juve juga berganti-ganti pelatih, namun trofi tak kunjung datang. Musim 2011-12 menjadi musim kebangkitan Juventus. Sebelumnya Juve dipimpin oleh presiden baru Andrea Agnelli yang kemudian merekrut pelatih Antonio Conte. Juve juga meresmikan stadion baru Juventus Stadium di awal musim 2011-2012.

Di musim 2013 dan 2014, Juve sukses menjadi juara Serie A tanpa terkalahkan. Juventus pun menjadi klub Italia pertama yang meraih scudetto tanpa terkalahkan dalam format 20 klub dengan rekor kebobolan paling sedikit. Prestasi Juve di bawah pelatih Conte berlanjut dengan menjadi juara di musim itu. Conte kemudian mundur dari posisi pelatih dan digantikan oleh Massimiliano Allegri.

Di tingkat Eropa, Juventus sukses menunjukkan tajinya. Juve sukses melaju ke babak final Liga Champions di tahun 2015 dan 2017. Pertahanan menjadi kunci kesuksesan Juventus di era ini, berkat adanya kiper dan kapten Gianluigi Buffon serta trio BBC (Barzagli-Bonucci-Chiellini).

Lini tengah di era ini juga diperkuat sejumlah pemain kelas dunia seperti Andrea Pirlo, Paul Pogba, Arturo Vidal, Claudio Marchisio, Miralem Pjanic dan Sami Khedira. Namun mereka harus puas jadi runner-up, dikalahkan oleh Barcelona dan Real Madrid.

Penulis : Galih Distianto

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here