MATA INDONESIA, JAKARTA – Rok atau pakaian yang dipakai mulai dari pinggang melewati panggul sampai ke bawah kaki identik dikenakan wanita. Tetapi kenyataannya di beberapa negara lain, rok dipakai juga oleh kaum pria di Timur Tengah.

Pada peradaban manusia kuno, rok merupakan pakaian biasa bagi pria maupun wanita. Kala itu, balutan kain kasa dan cawat biasa dipakai oleh orang Mesir. Bagi orang Yunani dan Romawi, digunakan sebagai penanda dalam menunjukkan kelas dan status.

Rok dipakai pria dan wanita untuk menutupi bagian bawah tubuh. Gaya pakaian ini populer dikenakan di Timur Tengah dan menjadi ‘konstan’ sepanjang beberapa abad. Walaupun sebagian sudah berubah sebab menyesuaikan dengan iklim, rok tetap dipakai sebagai perlindungan bagian tubuh bawah terhadap panas, debu, maupun sinar matahari.

Di Timur Tengah, ada pakaian tradisional yang didukung dan diterima baik oleh negara muslim di Timur Tengah lainnya. Pakaian ini memiliki ciri khas longgar dan menutupi bahkan sampai menutup seluruh bagian bawah tubuh.

Perkembangan dalam produksi teksil telah menjadi andalan ekonomi khususnya Islam di Timur Tengah sampai abad ke-19. Jadi, tidak heran jika dalam litelatur, negara-negara Timur Tengah lainnya seperti Arab, Persia, dan Turki mempunyai banyak awal referensi terkait kain dan pakaian.

Arab Saudi memiliki peran penting bagi tradisi berpakaian di Timur Tengah. Hal itu dikarenakan banyak kerajaan yang terdiri hampir 80 persen di Semenanjung Arab dibandingkan negara Timur Tengah lainnya seperti Yaman, Oman, Iran, Irak, Yordania, Suriah, dan Sudan.

Tradisi pakaian itu menjadi sangat penting dalam mewakili wilayah, sejarah, maupun agama. Penyatuan ketiga unsur itu terjadi di tahun 1932 dengan ditandai meningkatnya identitas nasional dan homogenitas pakaian.

Selain itu, meningkatnya interaksi juga perdagangan di Mesir dan Lebanon dari tahun 1945 hingga 1970. Eksplorasi yang terus dilakukan di Timur Tengah dimulai tahun 1980, menambah kombinasi mode kosmopolitan dan berbagai gaya lokal dalam berpakaian.

Hingga pada pertengahan abad ke-20, rok yang digunakan pria di seluruh dunia hampir lenyap dan digantingan dengan setelan jas. Namun hal itu tidak memengaruhi ‘rok sebagai pakaian pria’ di Timur Tengah.

Pria di Arab Saudi, dan negara-negara Teluk Persia lainnya, memakai ‘thobe’ atau gamis putih panjang yang terbuat dari katun linen dan biasanya berwarna putih. Namun tak jarang juga ada yang berwarna biru, abu-abu, dank rem.

Thobe ini dipakai hingga pergelangan kaki dan menutupi tubuh dengan longgar. Atasannya biasanya disesuaikan seperti kemeja.

Seiring berjalannya waktu, pakaian Timur Tengah menjadi semakin populer. Hingga akhirnya bentuknya pun lebih panjang dari atas hingga ke bagian bawah. Dikenal dengan nama Tsaub, baju ciri khas Timur Tengah ini digemari banyak kalangan pria, termasuk pria Indonesia.

Berdasarkan suatu studi yang berjudul “Islamic Education in Civilzation of Fashion Industry; Clothes Concept Reflection in Islam” tahun 2015, pakaian yang dinamai tsiyab atau tsaub, berawal dari ide dasar yakni, sebagai ‘penutup alat kelamin (laki-lai)’. Pria di Uni Emirat Arab dan Oman akhirnya juga memakai pakaian yang serupa, tetapi dengan ukuran berbeda.

Reporter : Irania Zulia

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here