MATA INDONESIA, JAKARTA – Keterwakilan perempuan dalam ranah politik selalu menjadi bahasan menarik. Hadirnya representasi perempuan diharapkan memperkuat partisipasi dalam politik agar dapat menyampaikan aspirasi serta kepentingan kaum hawa.

Menjelang Pemilu 2024, eskalasi perempuan dalam perpolitikan Tanah Air rupanya cukup dinamis. Bahkan, ruang lingkupnya bukan sekadar besar namun juga kompleks.

Selain itu, tantangan bagi perempuan tak hanya siap maju, memiliki kecukupan materi, dan kesiapan mental. Namun lingkungan politik juga harus dapat menerima kehadiran figur perempuan.

Hal tersebut disampaikan Direktur Estetika Institut, Estetika Handayani dalam diskusi virtual bertajuk “Perempuan Dalam Eskalasi Politik Menuju 2024″ yang digelar Party Watch (Parwa) Institute. Dipandu Duta Politik Perempuan Aghnia Addini, Sabtu 10 April 2021.

Berbicara eskalasi perempuan dalam Pemilu 2024, menurut Handayani, maka harus dimulai dari bawah. Sebab, hadirnya perempuan tidak cukup hanya diwakili Calon Legislatif (Caleg) di setiap gelaran Pemilihan Legislatif (Pileg).

”Tetapi bagaimana memposisikan perempuan pada tingkatan daerah, lalu bagaimana mendorong wacana ini menjadi wacana secara umum, yakni menghadirkan figur-figur perempuan dalam konstelasi politik Pilpres,” ujar Handayani.

Sehingga ia menilai, eskalasi perempuan dalam Pemilu 2024 sangat mungkin terjadi karena saat ini kaum hawa telah mendapat ruang dan posisi strategis. Contohnya, saat ini terdapat dua figur perempuan berposisi menteri yang dinilai berhasil.

”Kita lihat Sri Mulyani adalah Menteri Keuangan yang saya rasa cukup berhasil menangani ekonomi Indonesia saat ini, di mana kita tidak terjadi inflasi yang begitu signifikan,” katanya.

Kemudian figur lain adalah Menteri Luar Negeri Retno Marsudi yang mempunyai daya diplomasi luar biasa. ”Sehingga Indonesia memiliki kapasitas yang cukup diperhitungkan di antar negara,” ujarnya.

Ia berpendapat figur perempuan bukan tidak mungkin dapat dihadirkan dalam Pemilu 2024. Namun, keterbukaan ruang dialog melibatkan figur-figur perempuan juga sangat dibutuhkan untuk membangun konsep pentingnya tujuan yang cukup rasional.

”Memaksimalkan perempuan itu kita hadirkan pada konteks penyelenggara, bahwa perempuan sudah banyak hadir di ruang strategis penyelenggara Pemilu. Seperti dorongan agar KPU dan Bawaslu cermat memposisikan perempuan di dalamnya,” katanya.

“Kita juga mesti mencari bagaimana mekanisme semua suara perempuan tersalurkan. Perempuan tidak boleh golput, perempuan juga harus support perempuan, agar sampai pada golnya,” tandas Handayani.

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here