Ilustrasi murid tidak sopan (pixabay)

MATA INDONESIA, JAKARTA – Fenomena murid yang berlaku tak sopan, mungkin sudah tak asing di negeri ini. Ketika seorang murid merasa tak puas terhadap gurunya. Maka, tindakan anarkis seolah menjadi jalan terbaik.

Sehingga terjadi pertikaian antara murid melawan guru. Guru adalah pengganti orang tua di sekolah. Sudah seharusnya murid berperilaku sopan dengan guru.
Guru merupakan pahlawan tanpa tanda jasa.

Dengan jasa seorang guru, banyak murid yang bisa berprestasi dan menggapai cita-citanya. Seharusnya siswa-siswi menghormati dan mengharagai seorang guru dengan baik.

Namun, di era seperti ini, banyak murid yang berperilaku semaunya mereka. Seiring perkembangan zaman dan teknologi perilaku murid terhadap guru semakin memprihatinkan.

Adapun cara mengatasi dan mendidik siswa yang suka melawan guru antara lain, pahami karakter siswa, menjadi guru yang tegas bukan keras, melakukan pendekatan persuasif, mampu mendekatkan diri dalam berbagai keadaan, memperbanyak memberi nasihat, dan memberikan analogi, perbandingan atau contoh.

Salah satu contoh kasus yang viral di media sosial ialah pada tahun 2019 lalu. Tampak seorang murid memperlakukan Nur Khalim (guru honorer) dengan tak ada rasa hormat sedikit pun.

Pelajar SMP PGRI Wringinanom, Gresik yang mengenakan topi memegang kepala Nur Khalim. Tak hanya itu ia mendorong kepala guru honorer ini dan mencengkram bajunya. Nur Khalim pun tak melawan sedikit pun, ia nampak sabar sekali dengan perilaku muridnya.

Melansir dari Vice, pengamat pendidikan, Indra Charismiadji, menilai adanya beberapa video viral pelajar yang bersikap semena-mena ke guru tidak menandakan terjadi “krisis moral” di kalangan pelajar. Menurutnya, masalah yang harus segera dibenahi Kemendikbud adalah kurikulum pendidikan dasar dan menengah yang belum mengedepankan empati dan kesetaraan. Perbaikannya membutuhkan kerja sama sekolah dan orang tua, mustahil tuntas dalam semalam.

Indra menegaskan, untuk mengejar ketertinggalan akademik, masyarakat tidak bisa serta merta menyalahkan pelajar saat merespons kasus yang viral seperti di Gresik. Apalagi membangun asumsi anak zaman sekarang tak lagi hormat pada guru. Jika mengacu pada negara yang kualitas pendidikannya jauh lebih baik, hubungan guru-murid malah setara.

Guru terbuka pada kemungkinan dikoreksi, dan murid bebas mengungkapkan pendapatnya. Ketika tercipta situasi setara dan saling menghormati itulah, baru kita bisa berharap mutu pembelajaran meningkat.

Dari kasus yang terjadi, menandai bahwa murid di sekolah perlunya pembelajaran dan pembentukan mengenai karakter, etika dan tata krama. Kegiatan belajar mengajar bukan hanya belajar mengenai prestasi akademik, perlu adanya pembelajaran lebih dalam mengenai etika dan tata krama bagaimana murid bersikap dan menghormati gurunya.

Faktor yang menyebabkan murid bersikap tak sopan terhadap guru. Simaklah dibawah ini!

1. Psikologis

Psikologis yang dapat menyebabkan murid menganiaya gurunya. Hal ini terjadi karena, emosional yang belum matang, sehingga tak bisa mengontrol emosinya. Kekerasan yang terus terjadi di sekitar lingkungan tempat tinggalnya, dapat membentuk kebiasaan tersebut. Faktor inilah yang memicu terjadi kekerasan, karena merasa dirinya lebih tinggi dan menganggap orang lain sepele.

2. Program pembelajaran

Di Indonesia, kebanyakan lebih mementingkan dibagian akademis, sehingga mengabaikan pengembangan karaktek dalam hal etika dan tata krama. Pembelajaran etika dan tata krama cenderung lebih kurang diperhatikan, padahal hal ini penting. Selain itu, pelajaran yang didapatkan di sekolah seharusnya bersifat menyenangkan, bukan membosankan dan membebankan yang dapat membuat siswa jenuh dalam kegiatan belajar mengajar.

3. Kemajuan Teknologi dan Informasi

Dengan perkembangan teknologi yang semakin maju, membuat para siswa-siswi menjadi salah mengartikannya. Pola pikir mereka menjadi berubah dengan adanya teknologi yang maju. Zaman sekarang, murid menggunakan sosial media secara tak baik, kebanyakan dari mereka mengambil sisi negatifnya.

Jika kita tidak berhati-hati bermain sosial media maka kita akan seperti itu. Nah, mulai sekarang kita harus berhati-hati dan bijak dalam menggunakan sosial media. Serta, pintar-pintar dalam menerima informasi.

4. Hubungan Guru dengan Muridnya

Dalam hal ini, banyak sekali guru yang ingin dekat dengan muridnya dan memosisikan sebagai guru yang asyik. Dengan seperti ini dapat membuat murid merasa tak takut dengan guru dan bebas untuk bereksplorasi pemikirannya. Kedekatan ini tak menutup kemungkinan akan berdampak negatif. Sebagian murid salah mengartikannya, ia dapat berperilaku semaunya dan tak mematuhi sosok guru ini.

5. Pergaulan Bebas

Dahulu guru disegani oleh muridnya, berbeda dengan sekarang guru malah diserang. Hal ini akibat adanya pergaulan bebas yang ada di Indonesia. Adat istiadat yang telah berlaku di kehidupan masyarakat Indonesia, sudah tak sesuai. Perbedaan yang terasa, dahulu kasus yang sering terdengar guru menganiaya muridnya, tapi kini sebaliknya.

Reporter: Azizah Putri Octavina

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here