MATA INDONESIA, JAKARTA –  Banyak mitos beredar di kalangan masyarakat, terutama pada orang dahulu yang percaya hal-hal tahayul dan dianggap sebagai sebuah peraturan yang harus dituruti.

Termasuk mitos angka. Jika dilanggar, maka orang dahulu mengatakan akan terjadi sesuatu yang tidak baik. Seperti di Jepang, mereka memiliki mitos aneh nan tidak masuk logika, yaitu tentang mitos angka 4 yang dipercaya sebagai angka keramat yang membawa petaka.

Di sana, masyarakat luasnya yakin bahwa apa saja yang berhubungan dengan angka 4 akan membawa hal yang tidak baik. Maka untuk menghindari bencana yang dipercayai akan datang dari nomor tersebut, setiap lift banyak yang tidak menggunakan nomor 4 di tombolnya.

Begitu pula dengan kamar hotel dan penginapan, sering kali tidak ditemukan kamar yang memakai nomor 4. Sama halnya pada kompleks perumahan, sangat lumrah bila tidak ada blok atau alamat yang menggunakan nomor tersebut.

Sebagian orang-orang Jepang percaya dengan mitos angka ini. Untuk mengganti nomor 4, biasanya mereka menggunakan angka 3A sebagai pengganti. Anehnya hal ini tidak terjadi pada angka satuannya saja, tetapi juga semua bilangan yang terdapat angka 4, seperti 14, 24, 34, dan seterusnya. Oleh karena itu, di Jepang tidak akan menemukan angka 4 pada suatu apa pun jenisnya.

Jika diteliti lebih lanjut, hal ini diadopsi karena rakyat Cina. Asimilasi tersebut berlangsung saat bangsa Cina yang kebanyakan adalah seorang pedagang, menginvasi Jepang untuk bertransaksi dalam hal barang dan jasa. Maka bahasa dan tulisannya pun terkenal luas di Jepang. Tidak heran, jika seputar mitos angka ini tidak jauh berbeda.

Angka 4 merupakan angka yang dianggap mistik serta mengakibatkan kemalangan. Hal tersebut berasal dari cara baca angka-angka tersebut, yaitu Onyomi (ala Cina) dan Kunyomi (ala Jepang). Angka 4 dibaca Shi, itu berarti Shinu atau Mati. Tidak heran kalau orang Jepang tidak menyajikan sesuatu dalam jumlah angka tersebut.

Ada yang lebih menarik, lembaga yang mengurus nomor plat kendaraan bermotor juga tidak mengeluarkan deretan angka tertentu kecuali atas permintaan khusus. Misalnya 42 (shi-ni berarti kematian), atau angka komplit 4219 (shi-ni-i-ku berarti menuju kematian), an 4256 (sh-ni-go-ro berarti waktunya mati).

Selain itu, ulang tahun yang ke-42 dan 49 juga hal yang ditakuti masyarakat Jepang karena beranggapan pada usia tersebut rawan penyakit dan kesialan yang bisa berujung pada kematian. Sehingga banyak yang melakukan ibadah ekstra menjelang usia tersebut.

Banyak tanggapan dunia mengenai hal-hal ini, terutama dari luar Jepang yang sangat rasional dalam berpikir. Mereka menyebut hal unik ini dengan istilah Tetraphobia, yakni sekumpulan orang yang sangat membenci atau takut terhadap angka 4.

Para psikolog mengeluarkan pendapatnya bahwa phobia tersebut berasal dari pola pikir yang tersusun atas pemikiran orang-orang di sekitarnya, bahkan peristiwa buruk yang pernah menimpanya. Oleh sebab itu, mereka sangat phobia dengan angka 4.

Reporter : Afif Ardiansyah

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here