By Tuhu Nugraha – Konsultan Bisnis Digital

MINEWS.ID – Jumlah penduduk Indonesia terus mengalami peningkatan. Ditambah perekonomian yang tumbuh pesat, sebenarnya sudah menjadi modal bagi negeri ini untuk menjemput peluang di industri digital.

Apalagi infrastrukturnya sudah dibangun dengan bagus. Jadi digitalisasi bisa masuk.

Eits tunggu dulu, ada persoalan utama dan menjadi pekerjaan rumah terberat kita untuk memanfaatkan peluang tersebut. Yakni sumber daya manusia (SDM).

Pernah suatu ketika saat saya melakukan pre-workshop terkait industri digital, disitu saya sedih banget. Faktanya ditemukan banyak kelemahan SDM kita, terutama dalam hal critical thinking, inovation skill dan sejenis.

Sangat jauh dari harapan. Bahkan banyak pengusaha mengeluh tidak memiliki SDM yang siap untuk menghadapi segala tantangan di era digital saat ini. Lalu apa solusinya?

Menurut saya untuk mengejar ketertinggalan tersebut harus dilakukan dengan cara yang luar biasa. Kalau hanya dengan prinsip standar biasa, ya kita harus menunggu 20 sampai dengan 30 tahun atau lompat satu generasi.

Pernyataan itu saya dapatkan dari pakar kita di luar negeri. Artinya, Kalau mau kita memang harus memanfaatkan ahli asing, tapi pertanyannya, saat ini apakah kita masih alergi dengan tenaga kerja asing apa nggak?

Terus terang saja. Dibanding Australia, Indonesia lebih banyak unicorn-nya. Tetapi mereka mau era digital benar-benar cepat datang di negaranya dengan cara menyiapkan sumber daya manusia seriously.

Mereka pun blusukan mencari banyak mahasiswa terbaik dari negara lain yang kuliah di Australia untuk mengembangkan bidang tersebut. Sayangnya masih kurang. Akhirnya mereka ‘bajak’ banyak orang Silicon Valley (pusat industri digital–Red) Amerika Serikat buat kerja di Australia.

Harapannya bisa terjadi proses transfer pengetahuan, transfer knowledge dan mereka itu ‘ditanam’ di berbagai macam inkubator yang ada di Australia.

Tetapi bukan sekadar transfer ahli asing. Orang-orang start up Australia itu juga dibawa ke Silicon Valley untuk belajar sehingga semua terintegrasi.

Berbeda di Indonesia. Kalau di sini (Indonesia) misalnya Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) jika mau melakukannya, harus bekerja sama dengan kampus-kampus lalu bawa ahli dari luar Indonesia.

Contoh saja di Australia, aplikasi yang dibawa ke sana juga bukan yang ecek-ecek, tetapi yang sudah puluhan tahun. Ada yang sudah 20 tahun ada juga yang 15 tahun malang melintang di Eropa.

Aplikasi tersebut umumnya berbasis kampus, dengan demikian hanya butuh 10 tahun untuk mendapatkan para profesional. Di situlah keunggulan percepatan industrinya.

Di Cina juga begitu. Pemerintahnya bukan hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga mengundang pulang warga negaranya yang berada di luar negeri dan diberi insentif untuk bekerja mengembangkan industri digital.

Mereka merekrut orang yang bukan para lulusan freshgraduate, melainkan doktor, atau mereka yang pernah bekerja 10 tahun di perusahaan seperti Google.

Jadi inovasi yang mereka lakukan sangat berbeda. Sepertinya Indonesia ‘wajib’ menirunya. Kalau perlu juga membawa orang-orang seperti itu, sehingga membawa standar baru buat melakukan lompatan jauh.

Kedua, kita perlu belajar dari Cina soal sumber daya manusia industri digital. SDM Indonesia perlu menegakkan prinsip ‘you must change the mindset you not doing very good.’

Contohnya Jack Ma. Dalam sebuah bukunya Jack Ma mengingatkan perjuangannya menjadi ikon baru ekonomi digital Cina. Kenapa kita harus menirunya?

Karena selain anggota Partai Komunis Cina dia juga pendiri start-up yang bisa dijangkau orang-orang Cina secara umum. Hal itu bisa terjadi tanpa Jack Ma harus bersekolah di luar negeri atau bekerja di google untuk mendirikan Ali Baba.

Dia lokal banget sehingga kebutuhan lokal masyarakat China bisa digambarkannya dengan baik. Ia juga berupaya membangun pola pikir, bahwa ikon mass-entrepreneurship dan mass-inovation adalah Jack Ma.

Jadi orang tua di Cina bisa mendorong anak-anaknya menjadi enterpreneur seperti dia. Sebab, seperti halnya di Indonesia, sebagian besar orang tua di Cina umumnya menginginkan anaknya menjadi pegawai negeri.

Kalau sudah begitu nggak mungkin lagi orang-orang terbaik menjadi entrepreneur.

Itu sebabnya Jack Ma ingin menjadi inspirasi bagi orang tua Cina, bahwa anak-anak muda harus mulai membangun start-up karena potensinya bagus. Contohnya adalah Jack Ma dan Ali Baba.

Maka yang harus diingat adalah visi bisnis sekarang adalah agnostik. Dia tidak mempedulikan batas negara, bahkan agama.

Badan ekonomi kreatif Australia juga disematkan visi seperti itu. Badan itu mempunyai kemampuan yang sangat luas, termasuk kemampuan menghasilkan uang.

Jangan sebaliknya, hanya untuk menghabiskan anggaran. Tetapi Bekraf Indonesia sudah lumayan progresif, karena mengeksepor Kopi Upnormal ke Amerika Serikat.

Tapi tetapi harus lebih masif lagi dan terintegrasi dengan baik. Hal terakhir ini yang sering kita lupakan.

Contohnya saat ke South Australia, Saya sempat takjub banget bahwa pemerintah pusat Australia membuat start up visa dan enterpreneur visa.

Itu adalah program perdana Australia yang diterapkan di South Australia terutama di Adelaide dan sekitarnya.

Kenapa? Karena di situ produk domestiknya sedikit, tetapi banyak kampus. Jadi didesainlah satu gedung yang terintegrasi. Lalu pemerintah akan mengundang perusahaan dan entrepreneur sekelas Google dari berbagai negara yang memiliki ide penting.

Ide-ide itu akan diakses ke kampus di dua kawasan itu, Adelaide dan Flinders, yang memiliki start up akselerator sebanyak 40 orang. Tahun ini yang menjadi kuratornya akan langsung mendapat visa dan diproses hanya dalam waktu dua minggu.

Mereka juga ada yang akan membuat acara serupa di Indonesia. Jadi kita bisa melakukannya. Sebab masa depan dunia adalah negara-negara yang sanggup menarik SDM dari berbagai penjuru dunia.

Di Australia ada yang namanya start up peach. Sebuah model bisnis yang tak hanya minta uang belaka, tetapi juga mencari partner bisnis. Berbeda dengan Indonesia, ahli asing hanya diperlukan uangnya saja.

Di sana semua kampus yang ada bisa menggunakan gedung milik pemerintah, seperti Bekraf di sini, untuk membuat acara yang bisa membangun jaringan.

Misalnya ada sebuah kampus yang membuat acara, masyarakat umum bisa masuk di situ sehingga mereka bisa memiliki jaringan bisnis dan memiliki semacam zonasi yang kita belum punya.

Zonasi itu misalnya membangun industri manufaktur dekat dengan pelabuhan, begitu juga dengan pembangunan Hongkong Financial Service yang dilakukan Pemerintah Cina.

Indonesia sebenarnya juga bisa membuat sistem zonasi seperti itu. Kemarin ada orang Australia yang mengungkapkan Bali sebenarnya bisa dijadikan start up seperti di negeri Kangguru itu.

Dia mengusulkan start up pariwisata karena semua SDM -nya ada. Kalau mau menarik orang luar yang expert untuk tinggal di Bali gampang sekali. Menurut orang Australia itu mereka pasti bahagia banget dan tidak perlu dibayar mahal.

Bandung misalnya kan industri media dan kreatif cocok dipusatkan di sana karena musik nature -nya di situ.

Sedangkan Yogyakarta misalnya budaya yang ada dibentuk dengan teknologi karena banyak ahli teknologi di sana tapi filosofis berbeda dengan Bandung. Jakarta misalnya jadi pusat pengembangan vintage seperti Sidney.

Kemudian kenapa Bandung tidak kita jadikan pusat industri musik? Nanti tinggal cari universitas di kota kembang itu kita suruh membuat eksperimen musik-musik kita yang digemari mancanegara. Termasuk kita buatkan inkubatornya di sana.

Kuliner Bandung yang terkenal itu juga bisa kita buatkan inkubator khusus food and bevarage.

Misalnya kemarin waktu ketemu Elizabeth School of Hospitality di Bali semuanya dirancang di sekolah itu. Misalnya ada bar di situ, ada studio musik di situ, jadi content creator seperti Vanessa Surya tinggal pakai semua fasilitas tersebut, tidak perlu pusing-pusing lagi.

Prinsipnya, start up butuh tools yang spesifik seperti di Sidney ada Studio Indonesia. Mereka melakukan rekaman radio sampai video green screen di situ karena biayanya murah dan uangnya masuk kas pemerintah.

Bahkan kini mereka setiap minggu ada acara khusus seperti membuat local market fest, local farm dan sejenisnya.

Intinya bagaimana SDM yang ada disesuaikan dengan DNA wilayahnya. Jadi SDM kita seperti apa kemampuannya sehingga diketahui perlu mendatangkanexpert yang bagaimana?

Nggak perlu kita mengejar pengembangan pesawat luar angkasa karena kita bakal nggak kuat. Kita kuatnya di industri kreatif.

Semoga tulisan ini bermanfaat ya gaes!