Bundaran HI di Malam Hari
Bundaran HI di Malam Hari

MATA INDONESIA, JAKARTA – Freemason ternyata sudah ada di Indonesia sejak masa kolonial.

Freemason sudah ada sejak tahun 1736. Saat itu seorang Belanda bernama Jacobus Cornelis Mattheus datang ke Indonesia bersama Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) untuk berdagang di Jakarta yang saat itu masih bernama Batavia.

Setelah beberapa lama tinggal di Batavia, Jacobus Cornelis mendirikan pusat aktivitas para anggota Freemason (logi). Waktu itu organisasi hanya menerima anggota yang berasal dari warga Belanda yang beranggotakan enam orang yang berasal dari kalangan petinggi militer dan sebagian lagi para pengusaha Yahudi.

Di Tahun 1810 Gubernur Jenderal Daendels tiba-tiba mengeluarkan keputusan membekukan organisasi tersebut. Namun sayang di masa kepemimpinan Daendles berakhir organisasi ini akhirnya muncul kembali dengan membentuk anggota baru dari pedagang Tiongkok dan warga pribumi terutama para ningrat Nusantara.

Perkembangan organisasi ini sangat pesat. Beberapa tokoh-tokoh nasional dikabarkan pernah terlibat sebagai anggota Freemason, di antaranya; Raden Adipati Tirto Koesoemo, RM Adipati Ario Poerbo Hadiningrat dan Dr Radjiman Wedyodiningrat.

Tahun 1767 pada umumnya dianggap sebagai awal kehadiran Tarekat Mason Bebas yang terorganisir di Jawa. Selain melakukan pertemuan di loji-loji, mereka juga kerap melakukan pertemuan rahasia di kawasan Molenvliet yang kini menjadi Jalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk untuk membahas mengenai pendirian loji tersebut.

Di tahun 1945-1950-an, loji-loji Freemason mulai banyak berkembang di Indonesia, beberapa orang pribumi juga ikut bergabung dalam kelompok ini. Pada masa itu, keikutsertaan mereka pada kelompok ini hanya untuk mencari sesuap nasi, atau mencari aman atau karena masalah politik.

Setelah berdirinya loji-loji Freemasonry, banyak rakyat yang mulai resah akan adanya gedung tersebut. Bahkan oleh kaum pribumi gedung itu disebut pula sebagai Rumah Setan. Mengapa disebut Rumah Setan? Sebab, di loji itu para Mason selalu melakukan ritual pemanggilan arwah orang mati.

Setelah Indonesia merdeka, rupanya kegiatan Freemason mengusik Presiden Soekarno. Sang proklamator lantas memanggil tokoh-tokoh Freemason tertinggi Hindia Belanda yang berada di Loji Adhucstat (sekarang Gedung Bappenas-Menteng) untuk mengklarifikasi hal tersebut pada Maret 1950.

Namun, para Mason mengelak atas tudingan ritual pemanggilan arwah orang mati. Kepada Soekarno, mereka berdalih istilah Rumah Setan yang disematkan warga pribumi kepada loji-loji Freemason kemungkinan berasal dari pengucapan kaum pribumi terhadap Sin Jan (Saint Jean) yang merupakan salah satu tokoh suci kaum Freemasonry.

Namun, Bung Karno tak begitu saja percaya atas dalil mereka. Bung Karno akhirnya pada Februari 1961, membubarkan dan melarang keberadaan Freemasonry di Indonesia. Pembubaran dan pelarangan tersebut dilakukan Bung Karno dengan mengeluarkan Lembaran Negara Nomor 18/1961.

Lembaran Negara ini kemudian dikuatkan oleh Keppres Nomor 264 tahun 1962 yang membubarkan dan melarang Freemasonry dan segala atributnya seperti Rosikrusian, Moral Re-armament, Lions Club, Rotary Club, dan Bahaisme. Sejak itu, loji-loji mereka disita oleh negara.

Namun 38 tahun kemudian, Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mencabut Keppres Nomor 264/1962 tersebut dengan mengeluarkan Keppres Nomor 69 Tahun 2000 tanggal 23 Mei 2000.

Saat ini ada 22 loji Freemason yang tersebar di Indonesia, paling banyak berada di Pulau Jawa yaitu 14 loji, tiga di Pulau Sumatera, sisanya berada di Salatiga dan Makassar.

Di Jakarta ada beberapa tempat yang dianggap sebagai simbol mata satu.

1. Bundaran Hotel Indonesia

Bundaran yang memiliki air mancur ditengahnya ini sudah sangat lama disebut-sebut sebagai simbol Freemason. Simbol ini tidak terlihat jika kita berada di sekitarnya. Jika dilihat dari atas menggunakan Google Map, bundaran HI ini menyerupai simbol mata satu. Jalur yang berada di sekitaran bundaran HI persis menunjukkan alis dan bagian bawah mata. Masyarakat juga percaya bundaran HI merupakan peninggalan Freemason saat zaman Soekarno.

2. Museum Taman Prastasi

Museum ini berada di Tanah Abang, Jakarta. Saat memasuki museum ada dua simbol dari Illuminati dan Freemason yang berada di pintuk masuk sebelah kiri paling pojok. Menurut cerita dari beberapa sumber, pada saat itu Illuminati telah bergabung dan dipertahankan Freemason.

3. Kawasan Menteng

Jika dilihat dari Google Maps serta memutar maps taman Suropati dan taman Menteng 180 derajat, maka akan terlihat kepala kambing bertanduk alias bhapomet. Bhapomet adalah dewa romawi kuno yang sering kali jadi lambang pemujaan setan. Digambarkan Jl. Madiun dan Jl. Banyumas sebagai tanduk sebelah kanan, sedangkan Jl. Subang serta Jl. Cimahi menjadi tanduk sebelah kiri.

Reporter: Laita Nur Azahra

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here