MATA INDONESIA, JAKARTA – Jika Anda Muslim, sebaiknya tak usah datang Kota Trang di Thailand. Karena sarapan yang disediakan di kota ini adalah babi panggang.

Masyarakat di Kota Trang memiliki reputasi serius dalam hal makanan bahkan mereka bisa 9 kali makan dalam sehari. Tak heran, di salah satu aula di kota Trang yang luas dipenuhi berbagai lusinan makanan yang dikukus dan digoreng.

Aula tersebut terkenal dengan nama Pasar Induk Kota Trang. Pasar yang selalu beroperasi pukul 4 pagi ini menampilkan banyak jajanan kaki lima khas Thailand seperti, mie kukus dengan nasi, bubur, kari dan sup serta gorengan sampai babi panggang.

Hanya di Kota Trang yang menyediakan babi dewasa yang dipanggang dalam bentuk utuh. Para penjual biasanya menyembelih babi pada tengah malam, kemudian dimasukkan dalam oven dan pada satu jam kemudian bila warna babi sudah berubah menjadi merah tua, babi akan dikeluarkan dan dipajang untuk diperjualbelikan.

Awalnya hidangan babi panggang berasal dari Festival dan Perayaan Tiongkok, sejak abad ke 15 imigran Cina datang ke berbagai tempat di sepanjang pantai Laut Andaman Thailand. Para imigran Cina menjadikan Trang sebagai rumah mereka bahkan saking banyaknya orang Cina yang menetap kota Trang disebut-sebut sebagai tempat pecinan di Thailand. Di kota ini orang Kanton yang paling banyak memengaruhi resep makanan terutama sarapan.

Akibatnya hidangan babi panggang telah menjadi makanan identik bagi Kota Trang, bahkan makanan ini merupakan makanan favorit bagi penduduk setempat serta makanan wajib bagi pengunjung.

Babi panggang biasanya dioles dengan marinade berbahan dasar lima rempah yang manis dan harum. Kulitnya yang renyah bila dikunyah mengluarkan bunyi khas, daging yang kenyal seperti permen dan jika dipanggang dengan baik lapisan lemak pada babi seakan seperti mencair serta tidak perlu menggunakan saus saat dimakan.

Seiring perkembangan hidangan babi panggang tidak hanya menyajikan daging babi yang dimakan secara utuh tapi juga digabungkan dengan berbagai makanan lain seperti, Dimsum dan Roti Kukus.

Yaowanee Thirakleela yang memiliki kedai Dimsum Jip Khao Kanton generasi keempat merupakan tempat makan dimsum daging babi tertua dan terpopuler di Kota Trang.

Thirakleela mengatakan, dimasa lalu orang hanya datang dan minum teh, sesekali mereka makan kudapan seperti, pangsit kukus atau gorengan. Mengikuti perkembangan zaman, kedainya menyajikan banyak jenis makanan yang kemudian beralih menjadi restoran.

Di Kota Trang, selain babi panggang, warga juga menyukai Cakwe sebagai sarapan. Sebuah restoran kecil khusus sarapan bernama Kun Chiang Bang Rak menyajikan Cakwe dimulai dari jam 6 pagi.

Pemiliknya merupakan generasi kedua restoran kecil. Namanya  Somyot Athakijmongkol. Ia menjelaskan bahwa dirinya bangun setiap hari pukul 3 pagi untuk menyiapkan adonan dan menggorengnya pukul 6 pagi hingga terjual habis pukul 9 pagi.

Dengan teknik pembuatannya yang unik, tepung dibentuk terlebih dahulu kemudian dibalik dan dicubit,  Athakijmongkol menegaskan bahwa adonanannya yang berukuran seperti korek api ini lebih renyah untuk waktu yang lama.

Uniknya, ia mengatakan bila ada Cakwe di dekatnya pasti ada kertas kasar berwarna abu-abu. Kertas kasar tersebut digunakan untuk membersihkan minyak berlebih pada Cakwe serta untuk mencatat angka-angka sambil membicarakan bisnis.

Nah, kembali ke warga Muslim. Ternyata populasi Muslim di Thailand Selatan khususnya di Kota Trang cukup besar sehingga tidak hanya menjajakan sarapan khas Cina juga terdapat makanan halal yang dijual di dekat Stasiun Trang.

Makanan yang dijajakan berupa roti pipih goreng yang dipadukan dengan kari rempah, seperti kari India. Warga Muslim Thailand yang berada di dekat jajanan tersebut memiliki pengaruh yang tidak sebesar di Kota Trang. Mereka kebanyakan menjual kari untuk sarapan juga sebagai makan siang sesuai budaya umum di Thailand.

Thanatip Boonyarat yang menjual hidangan kari di jalan Thanon Kan Tang, Ko Lay mengatakan jualanannya terjual habis paling cepat pukul 9 pagi bahkan dirinya menjelaskan khusus di Trang, orang-orangnya memiliki reputasi serius dalam hal makanan. Di tempat lain orang-orang makan 3-4 kali sehari berbeda di Trang yang bisa sampai 9 kali sehari.

Reporter : Rama Kresna Pryawan 

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here