(Foto: Good News From Indonesia)

MATAINDONESIA, JAKARTA – Dalam pengembangan bahasa atau pembuatan kosakata bahasa biasanya suatu negara mempunyai Dewan Bahasanya tersendiri. Di Indonesia, disebut Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dan mempunyai tugas dalam melaksanakan pengembangan, pembinaan, dan perlindungan di bidang bahasa dan sastra dan sistem pembukuan.

Dahulu Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa ini dikenal dengan Pusat Bahasa dan Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Badan tersebut merupakan salah satu unsur penunjang dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Badan Bahasa ini telah menerbitkan banyak buku, diantaranya KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), Macam-macam kamus istilah, Tesaurus Bahasa Indonesia Pusat Bahasa sebagai sumber padanan kata, lalu Uji kemahiran berbahasa atau disebut UKBI, dan terakhir Rancangan Undang-Undang Bahasa.

Sejak dulu bahasa Indonesia memang bersifat terbuka. Kosakata dari negara-negara yang pernah menjajah Indonesia, seperti Belanda, Spanyol, Jepang, Portugis, Perancis dan Inggris sudah diserap oleh bahasa kita. Begitu pula bahasa dari negara yang sudah memiliki hubungan erat dengan Indonesia, seperti Arab, India dan China.

Karena hal tersebut, kosakata serapan dari bahasa asing maupun bahasa daerah dan istilah di bidang ilmu pengetahuan terus bertambah, setiap tahun rata-rata ada tambahan 6 ribu hingga 8 ribu kosakata baru yang harus di muatkhirkan salam dua kali per tahun oleh Badan Bahasa kita.

Dari data terakhir pada akhir tahun 2019 saja, jumlah bahasa yang berhasil teridentifikasi mencapai 718, dialek 778, dan subdialek 48 dengan total kamus bahasa daerah sebanyak 113 kamus. Tentunya saat ini bertambah lebih banyak lagi.

Saat ini terdapat banyak sekali tambahan kosakata baru, salah satu penyebabnya adalah pandemi COVID-19 yang melanda dunia sehingga mau tidak mau Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa harus menerima perintah untuk mencari padanan dari bahasa asing yang masuk dan sering disebut di Indonesia.

Kosakata baru tersebut contohnya, istilah asing yang biasa kita sebut lockdown kini telah memiliki kosakata Indonesia yaitu karantina wilayah. Social distancing yang selalu kita sebut sebut dalam protokol kesehatan Covid-19 memiliki bahasa Indonesia Pembatasan sosial, lalu pembatasan fisik dari physical distancing, rapid test yang ternyata bahasa indonesianya adalah tes cepat, tes usab (Swab test), koronavirus (Covid-19), penyanitasi tangan (Hand sanitizer), percikan (Droplet), penularan lokal (Lokal transmission), kekebalan kelompok (Herd immunity), kenormalan baru (New normal), Trailer (Trailer), Webtun (Webtoon).

Lalu kosakata baru Indonesia, ada Gumunda artinya sebutan untuk perempuan yang sudah beranak dan mampu merawat kecantikannya, karees artinya sisi sungai yang banyak pasir, Nirsentuh bermakna tanpa bersentuhan atau kontak fisik, Fankam yaitu potongan video penampilan penyanyi atau musikus yang direkam oleh penggemar dan dipos pada media sosial, Sandikala bermakna campuran warna merah, kuning, jingga yang terlihat saat matahari terbenam atau senja kala, dan masih banyak lagi.

Reporter : Anggita Ayu Pratiwi

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here