RA Kartini
RA Kartini terinspirasi surah Al Baqarah (Foto Istimewa)

MATA INDONESIA, JAKARTA – Raden Ajeng Kartini merupakan tokoh nasional wanita asal Jepara, Indonesia. Karena kisah perjuangannya yang fenomenal dan sangat menginspirasi bangsa Indonesia, hari kelahirannya selalu diperingati sebagai “Hari Kartini” setiap 21 April.

Peringatan tersebut juga sebagai pengingat terhadap generasi selanjutnya bahwa sosok Kartini yang telah ikut berjuang bagi rakyat Indonesia, terutama kaum wanita agar bisa lebih maju dan bersaing dengan bangsa lainnya patut diteladani dan diteruskan oleh generasi muda.

Semangat juangnya terus mengalir sampai kepada generasi saat ini, terutama kaum perempuan. Bukunya yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang” seolah menerangkan bahwa nilai-nilai yang dipegang teguh Kartini membawa kebaharuan ilmu pengetahuan untuk perkembangan zaman.

Rasa ingin tahunya yang tinggi membuat umat Islam di Tanah Jawa saat itu dapat belajar makna dari kitab suci Al-Quran.

Ketakjuban Kartini pada ayat Al-Quran, Surat Al-Baqarah 257, yang penggalannya berbunyi “Minadz-Dzulumaati ilan-Nuur” menjadi salah satu inspirasi sosok Kartini.

Kalimat itulah yang oleh Armin Pane diterjemahkan sebagai “Habis Gelap Terbitlah Terang” dalam buku terbitan Balai Pustaka. Namun, bagaimana pun cara ayat itu kemudian diterjemahkan, Kartini tetap menjadikan kitab suci sebagai inspirasi.

Ia mendapati makna ayat tersebut sebagai inti dari dakwah Islam sebagai agama yang ia peluk, yang artinya membawa manusia dari kegelapan (jahiliyyah atau kebodohan) ke tempat yang terang benderang (petunjuk, hidayah atau kebenaran) atau “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”.

Perempuan yang kemudian diperistri oleh Bupati Rembang ke-7 Djojo Adiningrat itu menjadikan ayat kitab suci sebagai pegangannya untuk sesuatu yang kini dikenal orang sebagai emansipasi.

Dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, Kartini menulis; “Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama yang disukai”.

Selain itu dalam surat ke Ny Abendanon, bertanggal 1 Agustus 1903, Kartini menulis; “Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah SWT”.

Cara Kartini memahami ayat-ayat kitab suci menunjukkan bahwa kaum wanita bahkan dalam keadaan paling terbatas sekalipun mampu mencapai makrifat tertinggi atau mengenal Tuhannya dengan sangat yakin.

Meski pernah mengalami masa-masa sulit, yakni hidup di zaman ketika perempuan sebagai “konco wingking” atau teman di belakang dalam dunia yang serba patriarkal, faktanya Kartini adalah sosok yang justru mendorong Faidh al-Rahman fi Tafsir Al-Quran terlahir.

Berawal dari rasa penasaran Kartini dalam penafsiran surah al-Fatihah, ia bertanya pada KH Saleh Darat. Dengan kata-kata yang sopan tetapi tegas, Kartini meminta kepada sang kiai agar bersedia menerjemahkan al-Fatihah ke dalam bahasa Jawa.

“Kiai lain tidak berani berbuat seperti itu. Sebab, kata mereka, Alquran tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa lain,” keluh Kartini kepada KH Saleh Darat.

Kepadanya, Kartini juga mengaku belum pernah mengerti dan memahami arti dari surah al-Fatihah sebelum mengikuti kajian sang kiai di Pendopo Demak ini. Untuk itu, dia menghaturkan terima kasih yang setulus-tulusnya.

Sayangnya, Kartini beranggapan bahwa, bila membaca Alquran sebagai kitab suci yang sedemikian indahnya justru tidak dipahami isinya sama sekali oleh orang-orang yang beriman. Padahal, mereka khususnya orang Jawa yang Muslim sangat ingin mengerti kandungan kitabullah itu sebagai penuntun kehidupan.

Hati KH Saleh Darat tersentuh. Begitu kembali ke rumahnya, sang kiai kemudian berupaya menerjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Jawa aksara Pegon.

Dari kerja kerasnya itu, lahirlah kitab tafsir Alquran Faidhur Rahman. Pada sampul buku ini, dia menggunakan nama Abu Ibrahim untuk mengenang anaknya (Ibrahim) yang telah wafat.

Kitab tersebut merupakan teks terjemahan pertama Al-Quran dalam bahasa Jawa. Isinya meliputi surah al-Fatihah hingga surah Ibrahim. Penulisnya lebih dahulu wafat sebelum dapat menuntaskan kitab ini hingga membahas seluruh 30 juz Al-Quran.

Sejak membaca karya KH Saleh Darat tersebut, pandangan Kartini mulai islami. Dalam arti, dia mulai meninggalkan kecenderungan liberal, yang tidak lain arahan para mentornya dari Belanda.

Ucapannya yang terkenal, “Dari gelap terbitlah terang”, merupakan pemahaman Kartini akan ayat ke-257 Surah al-Baqarah, yang artinya “Orang-orang beriman dibimbing Allah dari kegelapan menuju cahaya.” Kartini sangat tersentuh akan kalimat dari firman Allah itu.

Reporter: Andhika Ilham Ramadhan

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here