Ilustrasi siwak (pixabay)

MATA INDONESIA, JAKARTA – Dalam Islam, menggosok gigi menggunakan siwak atau miswak memang sangat dianjurkan Nabi Muhammad SAW. Terutama menjelang waktu sholat.

Dalam sabda Rasulullah SAW, disebutkan empat hal yang menjadi sunnah para Rasul, yaitu berkhitan, bersiwak, mempergunakan wewangian, dan menikah.

Istri Rasulullah, Aisyah RA juga pernah menyebut fitrah manusia sebanyak 10 hal, salah satunya adalah bersiwak. Rasulullah pernah bersabda, “Sebaik siwak adalah dari kayu zaitun, pohon yang diberkahi dan mengharumkan mulut. Itulah siwakku dan siwak para nabi sebelumku.”

Rasulullah juga disebutkan sangat menggemari siwak.

“Jika saja tak karena kasihan kepada umatku, niscaya aku wajibkan bersiwak setiap hendak melaksanakan sholat,” sabda Rasulullah.

Dalam hadits lain disebutkan, “Jika saja tak kasihan kepada umatku, niscaya aku wajibkan bersiwak setiap menjelang berwudlu,” ujar Rasulullah.

Kenyatannya, kandungan siwak memang melebihi kandungan yang ada di pasta gigi. Sehingga manfaat siwak untuk kesehatan rongga mulut cukup banyak.

Namun, sekarang jarang orang memilih siwak untuk membersihkan gigi dan mulutnya. Salah satu alasannya karena tidak mengerti bagaimana menggunakannya.

Ustaz yang juga seorang dokter, dr. Zaidul Akbar, mengatakan bahwa menggunakan siwak tidak ada standar tata caranya.

“Siwak bisa digigit supaya muncul serabutnya,” ucapnya.

“Kayak sikat gigi biasa, putar-putar, gosok-gosok, tapi jangan terlalu keras nanti emailnya bisa luka,” lanjut dr. Zaidul.

Selain gigi, siwak juga bisa diaplikasikan ke bagian gusi, lidah, dan langit-langit rongga mulut. Ketika serabut siwak sudah mengembang, bisa dipotong sehingga membuat bagian ujung yang baru.

Untuk menyimpan siwak pun dr. Zaidul menyarankan di tempat yang bersih. Jika terpaksa harus membawanya kemana-mana di dalam kantung baju, siwak harus dicuci dahulu dengan air mengalir sebelum digunakan.

“Bukan cuma dapat bersihnya, tapi dapat doa Nabi juga,” katanya.

Siwak juga disebut menyertai ibadah dalam banyak hadist. Senantiasa lah kalian mempergunakan siwak. Karena, dalam bersiwak itu terdapat 24 derajat, yang salah satu derajat itu menyebut keridhaan Tuhan dan ditingkatkan pahala sholatnya menjadi 77 kali lipat.

Dalam hadits lain disebutkan, keutamaan sholat yang disertai bersiwak dengan sholat tanpa bersiwak adalah 70 kali. Karena itu, Imam Nasai memilih tetap mensunnahkan bersiwak pada waktu zhuhur ke atas di saat puasa, pada saat imam lainnya memakruhkannya.

Memang ada perbedaan pendapat apakah sama, pahala bersikat gigi dengan bersiwak? Sebagian ada yang memandang tidak sama, sebab bersiwak itu bernilai ta’abbudi (bernilai ibadah) yang tak tergantikan dengan sikat gigi sehingga bersiwak sendiri menjadi berpahala.

Bahkan sebagian ulama menyebutkan bersiwak adalah sunnah wudlu, dan sebagian lagi menyebutkannya sebagai sunnah sholat. Apula yang menyebutnya sebagai sunnah agama yang mutlak yang bisa dipergunakan setiap saat dan memiliki pahala tersendiri.

Di sisi lain, peran siwak itu bisa digantikan dengan sikat gigi. Sehingga, bersikat gigi bisa menggantikan bersiwak asal disertai niat. Karena dalam bersiwak dianjurkan membaca niat, yaitu Nawaytul istiwaka sunnatan lillahi ta’ala.

Reporter: Indah Utami

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here