Cincin Olimpiade di depan Tokyo Olympic Stadium menyambut Olimpiade Tokyo 2020. (Foto: Istimewa)

MATA INDONESIA, JAKARTA – Tak hanya menelan korban jiwa, virus corona juga turut menghambat impian Cina untuk menjuarai Olimpiade Tokyo 2020 yang akan diselenggarakan di Jepang pada Bulan Juli mendatang. Sebelumnya, Cina telah berhasil menduduki peringkat 3 pada Olimpiade Rio 2016.

Mengutip dari Ozy, para atlet andalan Cina baik yang berada di dalam ataupun luar negeri, mereka tidak dapat berlatih bersama dan tidak yakin apakah bisa berpartisipasi dalam olimpiade atau tidak.

Tim sepak bola wanita Cina yang akan berlaga dalam pertandingan Olimpiade Tokyo 2020 terpaksa harus memperoleh pengawasan ketat saat baru tiba di Australia setelah melakukan penerbangan dari Wuhan, tempat awal penyebaran virus corona.

Berada dalam fase karantina, mereka hanya diperbolehkan menggelar tikar yoga di sepanjang koridor hotel Brisbane dan dilarang menggunakan fasilitas gym hotel. Tim hanya dapat melakukan pelatihan ala kadarnya. Bahkan empat rekan satu tim mereka tetap terjebak di Wuhan akibat adanya larangan perjalanan yang diberlakukan oleh pemerintah.

Biasanya, para atlet utama Cina akan memperbaiki rutinitas latihan mereka jelang penyelenggaraan turnamen olahraga yang selalu dinanti-nantikan oleh masyarakat dunia tersebut. Namun hal tersebut harus kandas akibat pergulatannya dengan dampak virus corona yang memicu ketidakpastian dan gangguan untuk memuncaki perolehan medali Olimpiade pada tahun ini.

Kekhawatiran dunia akan adanya penyebaran virus corona dari pengunjung Cina yang bertandang ke negaranya dapat menyebabkan terjadinya pembatasan izin pelatihan bagi tim negara Cina ke negara luar.

Tim rugby Cina misalnya. Setelah melakukan pelatihan musim dingin di Selandia Baru, mereka terpaksa harus tertahan terlebih dahulu di negara tersebut hingga pertengahan Maret, sebelum melakukan perjalanan ke Afrika Selatan untuk acara kualifikasi lainnya. Itupun jika mereka diizinkan untuk tinggal di sana.

Tim bulutangkis Cina yang merupakan pabrik medali emas untuk negara tersebut bahkan terpaksa harus dipulangkan ke negara asalnya untuk melakukan karantina saat awal-awal kasus virus corona merebak. Padahal saat itu tim tersebut baru usai melakukan pertandingan kualifikasi di Bangkok, Thailand.

Tim-tim di dalam negeri juga turut terpengaruh. Tim panahan Cina telah dikirim untuk berlatih secara terpisah di sebuah akademi di Sichuan. Anggota tim penembak rifle yang mencari kualifikasi olimpiade memulai kamp pelatihan terisolasi yang tidak direncanakan di Beijing pada 27 Januari, dengan beberapa yang baru saja kembali dari Jerman dikirim ke karantina terpisah.

Tak hanya itu, beberapa acara yang memenuhi syarat telah dibatalkan. Kualifikasi Gulat Olimpiade Asia, yang direncanakan pada 27-29 Maret di Xi’an, dikabarkan akan dijadwalkan kembali untuk akhir tahun ini.

Kualifikasi tinju yang dijadwalkan pada awal Februari di Wuhan juga telah ditunda sebulan dan diputuskan untuk pindah ke Yordania. Kualifikasi bola basket wanita juga sekarang akan diadakan di Beograd, Serbia daripada di Foshan, Goandong, Cina.

Wakil Ketua Jaringan Riset Olimpiade di Universitas Victoria, Melbourne, Australia, Richard Baka mengatakan bahwa di luar masa perang, pembatalan akibat gangguan pandemi tidak pernah terjadi pada masa sebelumnya. Sehingga wabah virus corona ini menjadi preseden baru di masa mendatang.

Para pejabat Cina secara resmi menegaskan bahwa rencana pelatihan tetap pada jalurnya – sesuai dengan pendekatan negara itu untuk mengatasi krisis.

Namun media pemerintah Cina sendiri telah melaporkan bahwa terdapat gangguan atau pembatalan jadwal pelatihan dalam cabang olahraga tinju, sepak bola, gulat, bola basket, tenis, hoki, bulu tangkis, menyelam, berkuda, golf, dan biathlon.

Selain tim olimpiade, liga olahraga profesional Cina juga turut terkena imbasnya. Chinese Super League, liga sepak bola domestik negara itu, telah menunda awal musim mereka yang mulanya dijadwalkan pada 22 Februari, kemudian ditunda oleh Asosiasi Bola Basket Cina tanpa batas waktu yang ditentukan.

Seorang psikolog dan direktur Peak of Mind, Hiren Khemlani, mengatakan bahwa gangguan ini memiliki konsekuensi bagi atlet di puncak olahraga yang sangat kompetitif. Mereka akan mengalami gangguan dalam meningkatkan keterampilan teknis, taktis, dan keterampilan mental mereka.

“Gangguan terhadap rutinitas, misalnya melalui sesi pelatihan yang dibatalkan, menyangkal kesempatan atlet untuk mengembangkan keterampilan sehingga dapat mempengaruhi tingkat kepercayaan diri,” ujarnya.

Rekan profesor emeritus ilmu biologi di Universitas California Selatan, John Callaghan, menyarankan agar kesehatan jangka panjang jauh lebih diutamakan daripada pelatihan rutin. Bagi Callaghan, pemain yang berkualitas harus dapat menunjukkan kekuatan mental mereka dengan cara menanggapi berbagai hal secara positif.

Virus yang telah menghantam perekonomian Cina itu kini akan mengancam mimpi negeri tirai bambu untuk pulang membawa gelar juara dan mengalahkan dua saingan terberatnya, yaitu Amerika Serikat dan Inggris. (Marizke/R)

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here