MATA INDONESIA, JAKARTA – Sampai saat ini, dolar Amerika Serikat (AS) masih dijadikan sebagai mata uang dunia. Bahkan, mata uang Amerika ini juga menjadi acuan standar nilai mata uang lainnya. Di Indonesia, jika harga rupiah tidak mau anjlok, rupiah harus selalu berada di posisi kuat dengan dolar AS.

Bisa dikatakan, dolar AS adalah rajanya mata uang karena bisa diterima oleh hampir semua bank sentral di seluruh dunia. Tidak mengherankan apabila banyak negara di dunia menjadikan dolar AS sebagai cadangan devisa, termasuk Indonesia. Lantas, apa yang menyebabkan dolar AS begitu berpengaruh terhadap perekonomian dunia?

Semua itu bermula dari Perjanjian Bretton Woods pada tahun 1944, yang melibatkan negara-negara sekutu AS dalam Perang Dunia II, yakni Inggris, Prancis, Uni Soviet, dan Tiongkok.

Melalui perjanjian itu, negara-negara yang mengklaim diri mereka sebagai negara paling maju tersebut berjanji akan mengontrol nilai tukar antara mata uang lokal dengan dolar AS. Jika nilai mata uang sebuah negara menjadi terlalu lemah terhadap dolar AS, maka bank sentral negara yang dimaksudkan akan mengintervensi dengan cara membeli mata uangnya sendiri di pasar valuta asing.

Namun, jauh sebelum perjanjian itu terjadi, negara-negara di dunia lebih banyak menggunakan emas daripada uang kertas sebagai alat ukur dalam perdagangan bilateral maupun multilateral. Biasanya, pelaku jual beli akan menukarkan uang kertas mereka di kantor-kantor resmi pemerintahan yang menjadi tempat penyimpanan emas cadangan sebelum mulai bertransaksi. Sistem itu dikenal dengan nama ‘Gold Standard’.

Penggunaan emas sebagai alat tukar perdagangan memang memiliki banyak keuntungan. Selain memberikan efek stabilisasi pada ekonomi, bertransaksi dengan emas mampu menghambat laju inflasi dan mengecilkan defisit anggaran. Hal itu dikarenakan pemerintah suatu negara tidak perlu mencetak uang berlebih dan hanya perlu bertransaksi dengan sebanyak jumlah emas yang dibutuhkan.

Meskipun begitu, emas juga memiliki kerugian, salah satunya adalah tidak adanya fleksibilitas dalam hal penyediaan uang. Selain itu, penggunaan emas sebagai alat perdagangan internasional juga menciptakan persaingan tidak sehat antara negara-negara yang tidak bisa memproduksi maupun membeli emas.

Hal itulah yang menginisiasi Perjanjian Bretton Woods. Setelah Perang Dunia II, keadaan ekonomi berbagai negara dunia, kecuali AS, hancur karena perang. Hal itu menyebabkan mereka bergantung pada pinjaman yang diberikan oleh AS.

Saat itu, AS yang memenangkan Perang Dunia II memang menjadi negara dengan cadangan emas terbesar, nyaris tiga perempat dari seluruh cadangan di muka bumi. Sementara, tidak ada satu pun negara yang memiliki uang lebih banyak, atau paling tidak setara, dengan semua cadangan emas yang dimiliki AS.

Perjanjian itu menyetujui berbagai negara yang terlibat dalam Bretton Woods untuk mendapat pinjaman berupa dolar AS. Dikutip dari Investopedia, harga satu dolar AS saat itu setara dengan 1 per 35 ons emas.

Sebagai jaminan dari pinjaman tersebut, AS menerima emas yang dimiliki negara-negara peminjam. Alhasil, AS secara otomatis menguasai hampir seluruh emas di dunia dan menjadikan dolar AS sebagai satu-satunya mata uang yang nilainya disokong oleh emas.

Nilai dolar AS yang menjadi lebih dominan dibandingkan mata uang lainnya membuat harga dolar pun melonjak, meskipun nilai emasnya tidak berubah. Hal itu secara praktis membuat dolar AS menggantikan emas sebagai sumber likuiditas perekonomian dunia dan menjadi basis sistem keuangan dunia.

Menjelang tahun 1970, sejumlah negara mengalami defisit perdagangan akibat nilai dolar yang terlampau tinggi daripada emas. Inflasi pun muncul lantaran komoditas impor mengalami kenaikan, seperti minyak. Akhirnya, pada 1971, AS membatalkan kebijakan penukaran emas dengan dolar. Namun, kebijakan yang sudah diberlakukan itu terlanjur membuat dolar AS ada di mana-mana.

Pada tahun 2007, merujuk pada data tahun 2006 yang menunjukkan 25 persen dari cadangan devisa di seluruh bank sentral dunia disimpan dalam mata uang euro, membuat banyak spekulasi mengenai kemungkinan dolar AS diganti dengan euro. Spekulasi itu juga diperkuat dengan beberapa negara di dunia, khususnya yang berada dalam kawasan Uni Eropa, mulai menggunakan euro sebagai mata uang negaranya.

Namun, kemunculan Euro tidak langsung membuat dolar terpuruk. Sebab, kehancuran dolar AS baru bisa terjadi jika seluruh ekonomi global hancur.

Beberapa tahun belakangan, dolar AS sebagai raja mata uang dunia terus melemah. Pada November 2020 lalu, dolar AS sempat merosot tajam dan menyentuh level terendah sejak April 2018.

Hal itu membuat negara saingannya, Tiongkok, dengan mata uang yuan miliknya, dianggap dapat menggantikan posisi dolar AS. Tiongkok memang menjadi negara yang selalu berusaha membawa mata uang yuan untuk menjadi mata uang internasional yang bisa menandingi dolar AS.

Berbagai upaya sudah dilakukan Tiongkok, salah satunya dengan mendorong penggunaan yuan atau mata uang lokal sebagai alat pembayaran transaksi internasional secara bilateral. Upaya itu juga dilakukan Tiongkok dengan Indonesia melalui kerja sama yang dilakukan antara Bank sentral China (PBoC) dengan Bank Indonesia (BI) yang disebut Local Currency Settlement (LCS).

Berdasarkan keterangan BI, kesepakatan dari kerja sama itu adalah mendorong penggunaan mata uang lokal dalam penyelesaian transaksi perdagangan dan investasi langsung. Hal tersebut meliputi penggunaan kuotasi nilai tukar secara langsung dan perdagangan antarbank untuk mata uang yuan dan rupiah.

Meskipun demikian, posisi dolar AS tidak akan mudah tergeser mengingat mata uang tersebut tetap dibutuhkan. Sebab, AS menjadi negara dengan volume perdagangan terbesar kedua setelah Tiongkok, yang membuat permintaan terhadap dolar AS tetap tinggi.

Berdasarkan data dari International Trade Center, total nilai perdagangan barang AS di tahun 2019 mencapai USD 4,2 triliun, yang setara dengan 11,16 persen dari total nilai perdagangan di seluruh dunia. Nilai perdagangan AS itu tidak jauh dari Tiongkok yang mencapai USD 4,6 triliun atau setara 12,09 persen dari total nilai perdagangan dunia.

Kendati kalah dari segi nilai perdagangan, berdasarkan Data Moneter Internasional (IMF) akhir tahun 2020, AS masih mendominasi cadangan devisa terbanyak di dunia. Secara praktis, masih banyak transaksi internasional yang menggunakan dolar AS. Hal itulah yang berusaha Tiongkok kurangi dengan lebih banyak menggunakan yuan sebagai transaksi perdagangan.

Reporter: Safira Ginanisa

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here