Jumat, September 17, 2021

Azima, Penjaga Rahasia Gurun Sahara

Baca Juga

MATA INDONESIA, TIMBUKTU – Suara gemercik tuangan air di sore hari yang romantis di Gurun Sahara, mengeluarkan uap panas beraroma menenangkan, menjadi teman di tengah lelahnya kegiatan hari itu. ”Teh pertama selalu kuat seperti halnya kematian,” kata salah satu dari mereka. “Yang kedua ringan seperti kehidupan. Dan yang ketiga manis seperti cinta. Kamu harus minum ketiganya,” ujarnya seraya tersenyum,

Ia Azima. Wanita kelahiran Gurun Sahara yang saat ini lebih banyak melakukan perjalanan hidupnya di Tuareg, sebuah kota di Pantai Timur Mali, Afrika. Sudah cita-citanya sejak remaja untuk pindah ke kota ini, ”Saya terpesona melihat lampu!” kenangnya.

 

Gurun Sahara
Gurun Sahara

Tak ada yang mengetahui dengan pasti kapan ia dilahirkan, angka 1970 hanya lukisan yang berlabuh di atas kertas resmi. “Saya pikir saya jauh lebih tua dari itu,” ia berkata.

Menghabiskan lebih dari separuh dihidupnya di Sahara, tentu saja ia telah menghadapi berbagai hal membahayakan disana. Tetapi tidak ada yang lebih membahayakan dari pada badai pasir yang hebat.

Ia mengenang sambil menatap langit jingga, ”Suatu hari, ketika saya masih kecil, saya pergi menunggangi unta saya untuk mencari air. Dalam perjalanan kembali ke kamp, ​​ada badai pasir,” ujarnya.

Ketika dewasa, pesona lampu bukan lagi pendorong dirinya untuk pindah ke kota Timbuktu, melainkan kekeringan panjang dan kebutuhan ekonomi lah sebagai pendorongnya. Di kota ini, Azima mendirikan bisnis pemandu yang ingin menjelajahi Sahara.

Meski telah berpindah ke kota, hatinya masih ia tinggalkan di gurun pasir.

Penjelajah

Acapkali ia menjelajahi bukit-bukit pasir di malam yang gelap, sebagai ungkapan kerinduan akan gurun. Ia juga menikmati waktunya untuk berkemah dalam kurun waktu berbulan-bulan lamanya,  meminum teh hangat bersama teman-teman, dan tertidur dibawah selimut keindahan malam, saat tidak ada kewajiban untuk menemani kliennya.

Menjadi penjaga tradisi dan pendongeng adalah tugas Azima bagi kelompoknya.  “Anak-anak saya lahir di gurun, seperti tradisi kami,” katanya. “Kami tinggal di Timbuktu dan saya ingin mereka bersekolah, bukan seperti saya.”

“Tapi suatu hari nanti saya juga akan mengajak mereka ke gurun pasir untuk waktu yang lama, agar mereka bisa belajar tentang gurun dan mengetahuinya dengan baik, sehingga mereka tidak kehilangan keterikatan itu.” Azina melanjutkan.

Gurun Sahara
Gurun Sahara

Hampir satu dekade ia lewatkan untuk menunjukkan lukisan alam yang terbentang seluas berkilo-kilo meter kepada para turisnya, sebelum para turis berhenti datang ke Sahara sebagai akibat dari adanya konflik di Sahel dan Sahara.

Kesulitan-kesulitan yang dihadapi masyarakat gurun atas adanya konflik itu tidak menurunkan harapan Azana dalam menantikan kedatangan para turis kembali.

Tidak ada perbedaan antara Sahara dan Timbuktu bagi Azana dan anak-anaknya, mereka menganggap keduanya adalah tempat mereka pulang.

Kota Timbuktu menjadi pusat pertemuan beberapa rute perdagangan paling menguntungkan di Afrika dalam sejarah abad pertengahan. Di kota yang menjadi kota terkaya di dunia saat itulah karavan-karavan besar garam Sahara bertemu perdagangan yang mengalir sepanjang sungai Niger.

Pada abad ke 16, jumlah penduduk di kota ini mencapai 100 ribu orang, jumlah ini bahkan lebih besar dari penduduk yang tinggal di London. 200 sekolah dan Universitas telah didirikan di kota Timbuktu, yang telah menarik para sarjana dari jauh seperti Granada dan Baghdad. Kota ini juga terkenal sebagai kota yang memiliki perpustakaan manuskrip yang harganya tidak ternilai.

Azima memperkenalkan kota ini kepada para pengelana dengan cara yang cantik.

Ia membawa mereka ke perpustakaan milik keluarganya yang memiliki manuskrip dari zaman keemasan Timbuktu, berupa biografi Nabi Muhammad di halaman daun emas dan risalah ilmiah dari pada cendikiawan Islam besar saat itu.

Ia melanjutkan perjalanan mereka dengan menunjukkan Masjid Dyingerey Ber kepada mereka. Ini merupakan lokasi dimana tidak ada yang berani membuka pintu palem kuno sejak abad ke-12. Konon, menurut legenda setempat, jika pintu itu terbuka maka kejahatan akan keluar dan memasuki dunia ini.

Ia juga membawa mereka ke pasar di mana unta masih berdatangan sambil membawa lempengan garam dari kedalaman tambang Taoudenni di Sahara. Dan ia akan bergegas membawa mereka ke tempat berlindung saat harmattan, angin gurun merah, mengubah langit menjadi kelam dalam badai pasir.

Pemandu

Dari pekerjaannya sebagai seorang pemandu, Azina mendapatkan teman dari seluruh dunia. Ia menjalin pertemanan yang sangat baik, karena meskipun tidak pernah belajar membaca dan menulis, Azina mampu berbicara dalam 7 bahasa. Ia juga pernah menjejakkan kakinya di Eropa, untuk mengunjungi teman-temannya itu. Ia berpendapat bahwa benua itu adalah dunia yang asing, sama seperti yang orang-orang di dunia lihat pada kota Timbuktu.

“Pertama kali saya berada di Eropa, saya melihat air tergeletak di tanah, saya pikir ‘orang-orang ini gila’. Dan semuanya bergerak dengan kecepatan yang tidak terpikirkan di Sahara,” kata Azima.

“Di gurun, kami memiliki waktu yang tak terbatas tetapi tidak ada air. Di Eropa, Anda punya banyak air tapi tidak punya waktu.” Jelasnya.

Namun, ia masih bisa menemukan suatu kesamaan dengan gurun, “Pertama kali saya melihat lautan di Barcelona, ​​saya menangis karena itu seperti gurun. Anda tidak dapat melihat ujungnya.” Katanya.

Perjalanan yang Azima lalui ini menimbulkan pemahaman akan daya tarik Timbuktu. ia beranggapan bahwa Paris dan Barcelona sama sulitnya seperti Sahara.

Tak lupa ia mengenang perjalanannya ke pertandingan sepak bola di Stadio Camp Nou Barcelona. “Di satu tempat ada lebih banyak orang daripada di seluruh Timbuktu,” kenangnya.

Bagi para turis yang ingin melihat Sahara lebih banyak, Azina akan membawa mereka ke pedalaman gurun pasir Araouane, yaitu sebuah kota yang tenggelam 270 kilometer di sebelah utara Timbuktu.

Perjalanan menuju kota ini membangkitkan tantangan yang besar karena, para turis harus menyeberangi hamparan pasir sangat panjang nan jauh. Selama 100 kilometer terakhirnya tidak ada satu pohon pun.

Ketika sampai mereka akan melihat pemandangan seperti kapal karam. Sejumlah bangunan di kota ini telah tenggelam di bawah pasir, sebuah masjid yang setengah terdedam oleh bukit pasir juga bagian dari pemandangan yang akan mereka lihat.

Di kota Araouane ini, angin bertiup selama merminggu-minggu panjangnya. Terkadang hujan tidak turun selama beberapa dekade, menghadirkan kehausan yang dalam bagi Sahara. Hanya ada bentang pasir sejauh mata memandang, bahkan pohon pun seperti enggan untuk hidup.

Tapi mengapa masih ada orang yang mau tinggal di tempat ini? “Sebelumnya, untuk menunjukkan bahwa Anda menjadi pengembara,” Azima menjawab. “Sekarang, untuk menunjukkan bahwa Anda kuat, Anda tinggal di satu tempat, Anda menetap. Itulah sebabnya orang-orang Araouane tinggal di sini. Ini untuk menunjukkan bahwa Araouane ada.”

Keindahan-keindahan alam yang ada di Sahara dan Araouane itu membuat Azina segan untuk mengubah tempat tinggalnya, meski untuk alasan apapun. “Ketika saya di padang pasir, saya merasa seperti orang bebas. Saya merasa aman dan saya tidak pernah takut. Di sini saya bisa berpikir. Di sini saya bisa melihat segalanya. Ini adalah siapa saya. Saya tidak pernah ingin pergi. Ini adalah rumah saya.”

Reporter: BBC/Sheila Permatasari  

- Advertisement -spot_img

BERIKAN KOMENTAR POSITIF

Ayo berikan komentar
Tuliskan nama

- Advertisement -spot_img
Berita Terbaru

Government Drilling, Menggenjot Eksplorasi Mendorong Investasi Panas Bumi

MATA INDONESIA, JAKARTA - RUU Energi Baru Terbarukan tengah dirampungkan pemerintah. Harapannya, RUU bisa membuat subsektor energi itu lebih...
- Advertisement -spot_img

Baca berita yang ini

- Advertisement -spot_img