MATA INDONESIA, JAKARTA – Istilah pamali sudah tak asing lagi di telinga kita. Istilah pamali ini disangkutpautkan dengan hukum yang berlaku di masyarakat tersebut. Sebagai bagian dari kultur budaya di Indonesia, hal-hal yang dipamalikan ini biasanya turun temurun disampaikan dari orang tua ke anak-anaknya.

Pamali dalam bahasa Arab sama artinya dengan thiyarah atau tathoyyur. Ini adalah bentuk-bentuk kesyirikan yang tersebar luas di masyarakat. Pamali ini bisa menjadikan kesialan kepada sesuatu yang dilihat, didengar, diketahui atau yang dilakukan. Pamali bisa juga disebut dengan pantangan. Pantangan tersebut tentunya berawal dari banyaknya kasus yang terjadi karena melanggar pantangan tersebut meski segala sesuatunya adalah bersandarkan atas kehendak Tuhan.

Definisi Pamali akhirnya merujuk kepada pantangan yang tidak boleh dilakukan. Melakukan hal yang dianggap pamali bisa membuat orang tersebut mengalami nasib buruk. Pamali ini biasanya tersebar di semua tempat, sampai seringkali kita sudah tidak tahu dari mana pamali itu berasal. Apa saja pamali-pamali yang berkembang di masyarakat?

1. Berfoto bersama dalam jumlah ganjil

Jika kita berfoto dengan jumlah ganjil, bisa mengakibatkan salah satu di dalam foto itu cepat meninggal, terutama yang berada di tengah.

2. Tidak membuang sisa makanan

Ini menjadi hal yang paling umum diceritain sama orang tua. Setiap makan, kita harus menghabiskannya dan jangan sampai ada yang dibuang meskipun hanya sebutir nasi. Banyak hal-hal negatif yang tidak percaya akan menimpa kita seperti kesulitan dalam hal finansial karena mencampakkan rejeki.

3. Kalau nyapu tidak bersih, suaminya brewokan

Orang-orang terdahulu, khususnya perempuan, menyukai wajah pria yang bersih dari brewok. Salah satu pamali ini dibuat untuk ‘menakut-nakuti’ perempuan agar mereka menyapu dengan teliti, tak ada kotoran atau debu yang tersisa. Brewok, pada masa itu, melambangkan hal-hal yang belum bersih. Jadi, kalau kamu malas membersihkan rumah, nanti kamu juga bakal dapat pria yang malas membersihkan badan juga.

4. Duduk di atas bantal nanti jadi bisulan

Salah satu pamali ini berkembang sebagai upaya mengembalikan fungsi barang. Bantal mulanya memang dibuat untuk kepala, bukan untuk kaki atau bagian tubuh lain. kalau diduduki atau diinjak, bantal jadi kotor, kepala pun ikut kotor saat bantal itu dipakai.

5. Bersiul malam hari berarti memanggil setan

Orang pada dasarnya memang taku setan. Karenanya, pamali ini dibuat agar orang tidak bersiul kala malam hari. sebab, dapat mengganggu tetangga sekitarnya. Apalagi di desa suasananya amat sunyi saat malam. Jadi, bersiul akan mengganggu istirahat seseorang. Hal ini juga berhubungan dengan asas kesopanan.

6. Keluar saat Maghrib bisa diculik wewe gombel

Orang zaman dulu, apalagi anak-anak, sangat takut dengan wewe gombel yang kabarnya suka menculik. Pamali ini dibuat agar anak-anak tidak keluar kala Maghrib. Sebab, Maghrib adalah waktunya orang beribadah atau istirahat dari aktivitas seharian. Maghrib juga menjadi waktu berkumpul bersama keluarga. Itulah sebabnya mengapa pamali ini dibuat dan berkembang di tengah masyarakat.

7. Makan sambil tiduran bisa jadi ular

Orang dulu percaya kalau makan sambil tiduran bisa jadi ular. Alasan logisnya tentu soal pencernaan. Makan sambil tiduran tak baik untuk pencernaan dan bisa membuat orang sakit. Oleh karena itu, pamali ini dibuat untuk menakut-nakuti orang zaman dulu.

Reporter : Titi Handayani

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here