upacara proklamasi
Ilustrasi upacara peringatan proklamasi kemerdekaan. (humas.jatengprov.go.id)
MATA INDONESIA, – 17an adalah kata yang selalu berkaitan dengan hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Angka 17 diambil dari tanggal kemerdekaan yang bertepatan pada 17 Agustus 1945. Tanggal bersejarah bagi Bangsa Indonesia. Di tanggal ini untuk pertama kalinya Sang Saka Merah Putih dikibarkan serta diiringi lagu Indonesia Raya.

17an yang selalu berkaitan dengan bulan kebahagiaan yang selalu dinanti dengan suka cita. Menginjak tahun ke 75 bangsa ini merdeka, terjadi musibah yang menimpa bangsa ini. Covid-19, virus yang awalnya tersebar di kota Wuhan Cina, menjalar hingga ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Hal ini membuat beberapa daerah menutup wilayahnya dan memaksa warganya untuk berdiam diri di rumah.

Musibah ini ternyata menyadarkan bangsa ini untuk tetap bersatu. Membuka pikiran bangsa ini untuk menjaga kebersihan. Membawa kita untuk peduli terhadap sesama tanpa melibatkan pangkat dan martabat. Memberikan kita pelajaran bagaimana berharganya waktu.

Pengalaman saya memeriahkan HUT RI ini adalah menjadi anggota Paskibra. Bangga rasanya menggunakan pakaian seragam khas Paskibra. Berbaris rapi membentuk formasi. Saat berjalan menuju tiang bendera, ada rasa kebanggaan bahwa kita adalah bagian dari bangsa Indonesia untuk mempertahankan Sang Saka Merah Putih. Setitik air mata bahagia menetes tak terduga. Beban yang terasa berat seolah menguap ke udara meninggalkan rasa bangga pada dada.

Sarapan pagi berupa push up dan sit up saat latihan, bagi kami sudah menjadi tradisi. Gundul dan kepang dua menjadi panggilan kami di lapangan. Muka menjadi belang itulah resikonya. Pulang dengan keadaan letih dan bangun tidur dengan keadaan badan terasa ngilu, bukan hambatan untuk tetap pergi ke lapangan menyambung latihan. Ini semua menjadi kenangan yang indah di kemudian hari.

Sayangnya tahun ini, acara seperti itu sudah tidak ada lagi.  Tahun ini kita semua beristiharat, bukan hanya bekerja, belajar bahkan beribadah. Pengibaranpun tak bisa terlaksana seperti tahun sebelumnya.  Kini, kita hanya berdoa untuk bangsa dan meminta kepada Tuhan YME, agar wabah ini cepat berlalu. Lekas membaik Indonesiaku kami rindu hangatnya mentarimu.

Penulis: Linda Nurafifah
Ig: @lindanurafifah,

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here