Joker Joaquin Phoenix
Joker Heath Ledger-Joaquin Phoenix

MINEWS, JAKARTA – Sore pukul 15.26 tanggal 22 Januari 2008, New York City dikejutkan dengan penemuan jenazah di sebuah apartemen, yang disekitar mayat tersebut banyak ditemukan obat tidur. Jenazah itu tak asing, dia adalah Heath Ledger, bintang Hollywood yang saat itu tengah ramai dibicarakan.

Ledger tewas bunuh diri berdasarkan hasil forensik dokter, sebelum film The Dark Knight dirilis pada Juli 2008. Namun, orang-orang segera lupa dengan kematiannya, dan terbius dengan akting Ledger sebagai Joker, villain musuh abadi Batman. Dunia merasa seakan Ledger masih hidup, abadi dalam perannya yang ‘super gila’.

Buktinya, Ledger diganjar dengan penghargaan Aktor Pendukung Terbaik dalam Academy Award atau Oscar 2008 karena perannya sebagai Joker. Sayang, penghargaan yang harusnya menjadi simbol puncak karir itu tak diterimanya secara langsung, Ledger sudah berada di alam baka. Bahkan, Ledger saja belum sempat menyaksikan film yang ia mainkan dengan susah payah itu. Tragis!

Lebih 11 tahun pasca kematian Ledger, film khusus Joker ditayangkan, tepatnya 2 Oktober 2019. Kali ini, Joker diperankan oleh Joaquin Phoenix, sama gilanya, sama sablengnya, sama edannya, dan sama menyeramkannya.

Film ini, ya terutama karena kepiawaian Phoenix, mendapat penghargaan dalam Festival Film Venesia sebelum Joker tayang secara resmi. Ketika penayangan perdananya, hampir tak ditemui komentar negatif tentang film ini. Phoenix sukses membius, sekaligus mengobati kerinduan akan sosok Joker yang sebenar-benarnya, yang kegilaanya di luar nalar.

Tapi, ada yang berbeda antara Ledger dengan Phoenix. Jika Ledger tak sempat menyaksikan penayangan perdana The Dark Knight yang dimainkannya, Phoenix justru duduk manis menonton setiap detail film Joker yang diperankannya.

Namun, apakah kelak nasib Phoenix seperti Ledger? Mungkinkah Phoenix juga akan mengikuti jejak Ledger, mengakhiri nyawa sendiri?

Kematian Ledger

Banyak desas-desus seputar kematian Ledger beredar di AS saat itu. Sebagian orang justru percaya, bahwa Ledger terlalu mendalami peran Joker yang mengerikan, sebagai monster yang tercipta dari kondisi depresi dan tekanan sosial.

Namun, pihak keluarga sempat membantah hal tersebut. Kakak perempuan Ledger, Kate Ledger menyebut adiknya justru selama ini sangat bahagia dan memiliki selera humor yang tinggi, serta menjadikan peran Joker hanya sebagai sebuah lelucon, tak lebih.

Bahkan, tak ada satupun pihak hingga hari ini yang mengungkap alasan sebenarnya Ledger sampai mengakhiri nyawanya. Satu hal yang pasti, ditemukan tanda-tanda depresi dalam kematian Ledger akibat overdosis enam jenis obat sekaligus.

Depresi dan Bunuh Diri

Pemicu utama seseorang bunuh diri bukanlah karena terlilit utang, atau ditinggalkan kekasih, melainkan depresi. Ya, kondisi tak mampu menghadapi kenyataan, selalu merasa lebih buruk dibanding orang lain atau tak menemukan solusi dalam hidup yang pahit, atau mungkin karena seringnya dirundung alias dibully, membuat seseorang jadi depresi dan tak punya alasan untuk hidup.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan setiap 40 detik satu orang di dunia melakukan upaya bunuh diri. Sebagian berhasil, sebagian tidak. Setiap tahun, 800 ribu orang ditemukan mengakhiri nyawanya sendiri. Penyebab utamanya, jelas adalah depresi.

Mungkin saja hal itu terjadi pada Ledger. Ingatlah, karakter Joker sebagai nama samaran Arthur Fleck adalah sosok yang depresi dengan kehidupannya, selalu dirundung dan dilecehkan orang, kemudian mengalami masalah kejiwaan dan menjadi bengis. Bisa jadi karakter Joker itu melekat pada Ledger, yang tak mampu mengendalikannya, lalu memilih bunuh diri. Mungkin saja demikian.

Bisa jadi, Joaquin Phoenix pun mengalami masalah seperti itu. Tak mampu ‘move on’ dari karakter gila yang diperankannya, kemudian depresi dan bunuh diri. Bisa jadi, tak ada yang mustahil di dunia ini.

Bila Phoenix ikutan bunuh diri nanti, maka kita boleh saja sebut, bahwa ada sindrom dalam peran Joker. Ya, Sindrom Joker, yang bila diperankan, akan membuat pemerannya bunuh diri dalam kegilaan yang tak terkendali.

Tapi, semoga saja tidak terjadi demikian kepada Phoenix.