Santri (Mawaddah Perabawana)
Santri (Mawaddah Perabawana)

MATA INDONESIA, – Tidak ada televisi, juga gadget dan akses media sosial di dalamnya, apalagi komputer dengan jaringan internet yang bebas digunakan. Hanya satu paket koran setiap harinya sebagai media informasi tunggal untuk lebih dari seribu santri putri di Pondok Pesantren Al-Anwar 2 Sarang, Rembang, Jawa Tengah.

Di tengah nikmatnya perkembangan jaringan 4G hingga hadirnya jaringan 5G di beberapa negara maju, kami masih setia berjejal di depan mading untuk membaca kabar apa saja yang disediakan oleh tim redaksi perusahaan koran. Setidaknya itu lebih ringan daripada menelaah keaktualan notifikasi yang muncul di bilah status gadget pada hari libur.

Sudah menjadi ciri khas koran dengan headline news yang berakar ke beberapa rubrik lain, tak luput dengan tajuk rencana yang ditulis oleh tokoh publik yang berkaitan. Inilah yang secara tidak sadar menjadikan kami pembaca yang kritis dalam sempitnya teknologi informasi di lingkup pesantren. Akibatnya, kabar duka di Indonesia bagian timur ikut kami jelajahi melalui gambar dan tulisan di koran.

Bahaya “Dugaan” Rasisme

Satu tahun lalu, tepatnya tanggal 23 September 2019, halaman utama koran memperlihatkan betapa gosongnya salah satu kota di bumi Timur Indonesia. Sebuah tragedi berdarah terjadi di Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya, Papua. Tragedi tersebut dikenal sebagai Kerusuhan Wamena dengan isu dugaan rasisme. Kerusuhan Wamena ini ternyata bukanlah yang pertama, sembilan belas tahun lalu tepatnya pada 6 Oktober 2000 tragedi serupa yang dikenal dengan Wamena Berdarah juga menyisakan trauma mendalam bagi warga asli Papua dan pendatang.

Saat tragedi Kerusuhan Wamena, kami baru mendapatkan berita sehari setelah kejadian, mengingat perkembangan berita melalui koran tak secepat melalui media sosial. Lalu bagaimana respon kami saat pertama kali mengetahui berita Kerusuhan Wamena? Pengalaman, pengetahuan, dan cara menyikapi sesuatu setiap santri pasti berbeda-beda. Setelah kami membaca koran, sebagian dari kami bingung karena pengertian rasisme yang tersampaikan sebagai dugaan pecahnya kerusuhan di Wamena belum memuaskan rasa ingin tahu, sebab santri di sini terdiri dari santri tingkat menengah pertama dan tingkat menengah atas.

Namun, sebagian dari kami terpekik akan teriakan balita dalam berita yang ketakutan akan suara tembak dan kaca pecah. Kami juga menyayangkan banyaknya rumah, kantor, ruko, motor, mobil dan sebuah pasar yang terbakar akibat kerusuhan tersebut.

Santri putri yang identik dengan sikap ramah dalam bercerita mengajak santri lain membaca kabar duka di Wamena. Menyimpan baik-baik informasi yang telah diperoleh, lalu mengabarkannya naik ke lantai dua dan tiga, kemudian membuka diskusi kecil di pojok-pojok aula yang membahas Kerusuhan Wamena. Kebiasaan inilah yang membuahkan sikap kritis tumbuh tanpa disadari.

Kabar mengenai Kerusuhan Wamena tak hanya eksis sehari ataupun dua hari. Silih berganti kami mengantre membaca koran, mencari rubrik lain dengan topik serupa yang memberi pandangan terbuka atas konflik tak berkesudahan. Menyadari betapa bahayanya rasisme walau dengan embel-embel dugaan, membuat kita membayangkan jika tekanan yang dialami oleh warga asli Papua ataupun pendatang jatuh menimpa kita. Posisi kami sebagai santri hanya mampu berdoa akan kedamaian Papua yang masih menggantung di atas tanahnya, tanah kita semua sebagai rakyat Indonesia yang harusnya melek akan bahaya rasisme. Sebab, rasisme membuat objeknya menjadi lebih sensitif dengan ujaran yang kurang hati-hati.

Cahyani dalam Rangkulan Santri

Pondok Pesantren Al-Anwar 2 yang mengasuh santri dari berbagai daerah di Indonesia tak luput oleh santri yang berasal dari Papua. Saat tragedi Kerusuhan Wamena terjadi ada seorang santri putri yang berasal dari Papua menimba ilmu di sini. Ia bernama Cahyani Fauziah yang tengah duduk di kelas XI MA Al-Anwar. Keluarga Cahyani merupakan warga pendatang yang menetap di Abepura, Kabupaten Jayapura, Papua. Tempat tinggalnya memang jauh dari tempat terjadinya Kerusuhan Wamena, tetapi Kerusuhan Wamena lebih luas dan parah dari tragedi Wamena Berdarah.

Mendengar kabar buruk terjadi di Wamena, Cahyani yang sejak kecil bermain dan belajar di Abepura, memiliki keluarga yang utuh dan teman yang banyak di sana, apakah dia masih betah menyimpan rasa cemas akan keselamatan keluarganya? Mau tak mau ia harus tabah sambil mengharap keselamatan keluarganya dalam doa dan rangkulan semangat oleh teman-teman yang masih terbilang baru di pondok pesantren saat itu.

Sebagai satu-satunya santri yang berasal dari Papua, ia pasti menjadi sasaran pertanyaan teman-temannya. Apakah rumahmu dekat dengan kejadian itu? Bagaimana kabar orang tuamu? Apakah kamu sudah menghubungi orang tuamu? Apakah kamu tidak ingin pulang? Bisa dibilang Cahyani sangat beruntung karena saat tragedi Kerusuhan Wamena berlangsung, ia sedang berada jauh dari tempat kejadian. Selain berbagai pertanyaan, Cahyani juga mendapatkan kekuatan dari teman-temannya untuk tetap berpikir baik terhadap tragedi di Wamena.

Menilik sebab akibat dari rasisme yang berulang-ulang terjadi di tempat yang sama, harusnya kita mampu mengubah tragedi mengerikan menjadi tolak ukur goyangnya integrasi bangsa. Maka diperlukan rasa keingintahuan akan kebinekaan Indonesia yang berdampak positif dan negatif, kemudian memunculkan rasa kesetaraan antarsuku.

Disadari atau tidak, para santri yang hidup berdampingan dengan teman yang berasal dari berbagai suku dan daerah mampu mengendalikan dampak-dampak yang muncul akibat berbagai perbedaan ras. Saat jumpa teman baru yang memiliki banyak perbedaan tentu memunculkan rasa penasaran. Dari mana asalmu? Bagaimana suasanan di daerahmu? Apa di sana banyak tempat yang bagus? Coba bicaralah dengan bahasa daerahmu! Apa saja tradisi yang daerahmu punya? Ajak aku ke daerahmu ya! Betapa penting pertanyaan sepeti itu hadir di antara dua suku atau daerah yang berbeda. Temanmu dari daerah itu berkulit putih ya, tapi hidungnya pesek! Di daerah itu orangnya cantik-cantik, tapi kulitnya gelap! Dia kok kaya orang sana ya padahal dia bukan dari daerah itu! Itu menunjukkan bahwa sifat biologis tidak sepenuhnya bisa mendoktrin seseorang berasal dari daerah dan suku tertentu. Meski terkadang ujaran tanpa sengaja membicarakan hal tersebut dengan nada ejekkan belaka, sebenarnya dapat menjadi fatal bila terus dilakukan.

Tidak hanya di Indonesia, perbedaan-perbedaan berbagai aspek juga ada di seluruh dunia. Bukankah memang itu yang telah Allah sampaikan dalam QS Al-Hujarat ayat 13, Allah menciptakan manusia dengan berbagai perbedaan gender, bangsa, suku, dan tak luput dengan fisik yang bermacam-macam. Kita dianjurkan untuk saling menghormati di tengah banyaknya perbedaan.
Dalam kehidupan sederhana di pondok pesantren, kami diajarkan untuk hidup dalam kesetaraan. Misi menuntut ilmu tidak berlaku hanya untuk kalangan, suku, dan asal tertuntu. Dalam belajar kami harus buta akan perbedaan-perbedaa nyata antara satu sama lain. Kami memposisikan hadirnya perbedaan sebagai warna baru untuk menambah wawasan.

Tak ada yang berharap kerusuhan terjadi di manapun, termasuk di Wamena dan daerah lain di Papua. Mungkin saat Wamena berasap panas, Indonesia bagian tengah sejuk dan aman. Tetapi, ledakan di Wamena harusnya juga terdengar di seluruh Indonesia, karena Wamena juga tanah seluruh rakya Indonesia yang harus didamaikan oleh seluruh warganya. Tak mungkin bila saat kerusuhan terjadi kami ikut bergabung dengan para polisi dan aparat keamanan, hanya doa dan harap yang kami bisa lakukan setelah melihat kabar yang akhirnya selesai dalam waktu yang tak singkat.

Penulis: Mawaddah Perabawana
Ig: @mawaddahperabawana
Twitter: @ema_amaw

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here