Ratu Surga Lia Eden: Akhir Sebuah Teater Panjang?

145

MATA INDONESIA, – SASTRAWAN Masdan suatu sore pergi ke bandara Halim Perdanakusumah untuk menjemput malaikat Jibril. Ia datang bersama selusin anggota lain jamaah Salamullah ciptaan Lia Aminduddin. Tidak jelas pesawat apa yang ditumpangi Jibril, tapi Paduka Baginda Lia Eden memastikan bahwa sang malaikat akan tiba sore itu.

Hingga pesawat terakhir mendarat, Masdan dkk tidak melihat Jibril. Semua penumpang yang turun adalah manusia. Ternyata Jibril memang batal mendarat sore itu. Baginda Lia Eden meralat infonya. Masdan dkk tidak kecewa. Pasti Paduka Lia sedikit meleset dalam akurasi info dari langit yang diterimanya. Paduka Lia adalah manusia biasa. Dan manusia adalah sarang kekeliruan dan kealpaan.

Tokoh panutannya itu mustahil berbohong dan hanya bermaksud mempermainkan Masdan dkk dengan menyuruh mereka ke bandara. Mereka pulang dengan senyum sabar, meski tanpa Jibril — tokoh yang sejak lama memukau Masdan dan kadang menjadi objek lukisannya; ia juga pernah menulis cerita pendek “Setangkai Melati di Sayap Jibril”, jauh sebelum ia menganut ajaran Salamullah.

Bertahun-tahun kemudian, Masdan, yang menjadi pengikut Lia Eden bersama isterinya, seorang psikolog dan penulis tekun yang menulis sejumlah buku anak-anak, menyatakan diri keluar dari Salamullah. Isterinya bertahan. “Dia lebih memilih Ibu Lia daripada saya,” kata Masdan kepada saya tentang isterinya. “Saya keberatan dengan praktek-praktek yang menjurus pada penyiksaan diri. Tapi isteri saya tetap mau menerima dan menjalankannya. Akhirnya saya putuskan bercerai saja.”

Ia menceritakan bentuk-bentuk penyiksaan diri itu; melibatkan pembakaran terhadap bagian-bagian tubuh tertentu, dengan doktrin: semua lubang adalah sumber setan dan kejahatan. Isteri Masdan meninggal beberapa tahun kemudian.

Apakah Masdan kemudian tidak percaya lagi pada Paduka Lia dan ajaran-ajarannya? Ia tak menjawab tegas. “Saya percaya isteri saya itu adalah Dewi Kwan Im,” katanya dengan kalem, merujuk mitologi mashur Cina kuno. Ia masih percaya sampai sekarang, setelah keluar dari Salamullah dan bercerai dari Dewi Kwan Im? “Ya, saya masih percaya,” Masdan tersenyum bijak.

Tak lama setelah pembatalan kedatangan Jibril, Dwidjo seorang anggota lain Salamullah mendapat perintah khusus — juga bersumber pada bisikan yang didengar Lia Eden dengan telinga batinnya. Instruksinya spesifik: Dwidjo, pria berusia awal 50an, seorang ahli kertas lulusan Jerman, harus mengabarkan bahwa dunia akan segera kiamat, dengan naik kuda di sepanjang Jalan Thamrin dan Sudirman.

Dan ia harus mengumumkannya dengan tiupan terompet — tentulah diilhami sangkakala malaikat Israfil. Begitulah, di bawah terik matahari pukul 12, ia berkuda sendirian, menapak pelan-pelan di jalan utama itu dengan sekali-sekali meniup terompetnya. Tampaknya kemudian polisi menertibkannya. Tidak mengapa. Misi toh sudah dijalankan dengan baik. Sangkakala tanda kiamat akan segera tiba sudah ditiup bertalu-talu di sepanjang miracle mile itu.

*

Seperti semua ajaran serupa, Salamullah memiliki mekanisme ganjaran dan hukuman bagi pengikutnya, meski tampaknya bentuk-bentuknya belum dibakukan. Tapi salah satu hukuman lazim adalah larangan bicara. Dan itulah yang harus diterima Saif, seorang wartawan senior, bekas kolega saya di sebuah koran. Ia tak memberitahu pelanggaran apa yang telah diperbuatnya, tapi ia menjelaskan hukuman yang ditimpakan kepadanya: dilarang bicara selama sebulan penuh.

“Bayangkan repotnya saya waktu itu, karena saya masih harus mewawancarai orang, bahkan memimpin rapat kepanitiaan yang yang saya ketuai di koran itu,” kata Saif — nama samaran, seperti semua nama lain yang muncul di tulisan ini. Saif yang cerdas, ia sarjana teknik kimia, tak pernah kehabisan akal untuk mengatasi beban hukuman itu.

“Saya menuliskan pertanyaan di depan orang yang saya wawancarai,” katanya, penuh kemenangan. “Saya juga memimpin rapat dengan menuliskan ucapan-ucapan saya di papan tulis.” Semua peserta kebingungan. Rapat jadi agak tersendat. Tapi toh semuanya akhirnya berjalan lancar. Acaranya sukses. Jika ia tak menjalankan hukuman itu, sangat mungkin semua urusan Saif justeru akan semakin runyam. Jika memang salah, akui dan jalani saja konsekuensinya.

Tapi Saif keberatan ketika vonis larangan bicara itu dijatuhkan kepada anak anggota jamaah yang berusia enam tahun. Ia sangat prihatin, katanya. “Saya tidak tega, karena anak dalam usia segitu justeru sedang sangat ingin bicara banyak,” katanya. Keberatannya tidak pernah sampai ke telinga Paduka Lia.

Saif, kawan saya sejak masa mahasiswa, memang orang baik yang mudah tersentuh hatinya, dan setia pada teman. Suatu hari ia datang ke kantor saya di Jalan Tendean Jakarta dengan tergopoh-gopoh dan wajah tegang. “Jakarta sebentar lagi tenggelam!” katanya, setengah berteriak, ketika saya temui.

“Ibu Lia mendapat wahyu bahwa akan ada banjir yang sangat besar, dan Jakarta pasti tenggelam,” katanya lagi. “Kamu cepat-cepatlah mengungsi, mumpung masih ada waktu. Anak dan isteri saya sudah saya ungsikan ke Sukabumi.” Kapan malapetaka itu akan datang? “Kira-kira dua minggu lagi.” Maka Saif memanfaatkan waktu yang tersisa untuk mengabari sahabat-sahabatnya — dan ia memilih untuk menyampaikan langsung, tak cukup lewat telepon.

Ketika banjir besar itu tak terjadi, Saif tidak minta maaf atas infonya yang telah membuat saya cemas; ia pun tak menjelaskan kenapa banjir besar itu batal. Tapi saya duga, seperti biasa: Paduka Lia kemudian menerima wahyu ralat pada menit-menit terakhir. Saif, seperti semua saudaranya sejamaah Salamullah, selalu punya kesanggupan mental dan intelektual untuk menerima versi apapun yang disampaikan Baginda Lia.

Hanya Madari, seorang kolumnis ternama, yang kemudian membangkang Paduka dengan keras dan keluar dari jamaah — karena, katanya, Rp 60 juta uang miliknya hilang di markas jamaah itu di kawasan Senen, Jakarta Pusat. “Bajingan!” katanya berulang kali. Seorang rekannya, doktor ahli Islam, tetap menjadi pengikut Salamullah hingga meninggal dunia beberapa tahun lalu.

Rekan lain, juga seorang doktor dan dosen ahli Islam, dengan tak banyak ribut kemudian menjauhkan diri dari lingkaran Lia Eden. Ia harus dianggap melibatkan diri di sana untuk keperluan riset tentang fenomena spiritualisme di perkotaan. Case closed.

*

Lia Aminuddin turut dalam arus mode pembuatan kerajinan bunga kering di pertengahan 1980an. Ia makin serius menekuninya, sampai mendirikan perusahaan produsen bunga kering. Sebuah yayasan sosial yang menyantuni narapidana mengontaknya, memintanya mengajari para napi agar mereka punya keterampilan untuk mencari nafkah sekeluarnya dari penjara.

Lia memenuhi permintaan itu dengan sepenuh hati, dan tak lama kemudian para napi mampu menghasilkan produk bunga kering yang sesuai standar. Lia menampung hasil kerja mereka. Ia menggabungkannya dengan produknya sendiri dan menjualnya. Cepatnya perusahaan Lia mekar mencerminkan bisnis kembang kering itu mendatangkan profit yang baik.

Bisnis itu, juga pelatihan napi yang ditanganinya, terus berjalan lancar hingga awal 1990an, ketika ia mulai yakin sedang berpacaran dengan jin — jin laki-laki.

Semua sanggahan dan nasihat kawan dan kerabat agar ia kembali berpikir normal hanya memperkuat keyakinannya, dan kemudian mengklaim diri sebagai Bunda Maria — sebelumnya ia hanya menyatakan sekadar berjumpa dengan figur yang disucikan oleh agama Kristen itu.

Keyakinannya mengalahkan semua nasihat dan keprihatinan orang-orang dekatnya tentang jalan hidup yang ditapakinya. Seiring surutnya bisnis kembang keringnya, ia terus menerima wahyu. Perlahan-lahan suatu lingkaran pengikut setia terbentuk. Seperti di India, Timur Tengah dan Afrika, misalnya, selalu ada saja yang percaya pada klaim superioritas spiritual seperti yang dinyatakan Lia. Mereka inilah yang segera menjadi pengikutnya, sambil rajin menularkan keyakinannya kepada siapa saja, membuat lingkaran pengikut pelan-pelan melebar.

Mungkin Lia sendiri yakin jamaahnya suatu kali pasti membesar, sebagaimana banyak kelompok serupa yang dimulai dengan lingkaran kecil, kemudian sukses sebagai sistem ajaran mapan yang dianut oleh ratusan juta atau miliaran orang.

Dengan jumlah pengikut yang bertambah, meski tidak dalam rombongan-rombongan besar, karir spiritual Lia mulai diperhatikan publik ketika pada 1999 ia membuat perhelatan di Pelabuhan Ratu Sukabumi, untuk menantang penguasa Pantai Selatan yang sangat mashur, Nyai Roro Kidul.

Ia memimpin salat berjamaah di sana (ia belum punya sistem ritual sendiri), dan puncak acara adalah teriakan tantangan Lia, sambil menghunus sebilah keris. “Allahu Akbar!” pekiknya. “Lepaskanlah hamba dari kutukan Roro Kidul!” Keris 20 cm yang ditekankan di dadanya kabarnya melukainya; tapi beritanya tak muncul di media. Media juga tak menjelaskan apa sebetulnya yang telah dilakukan nyai terkenal itu kepada Lia, sampai ia merasa terkungkung oleh kutukan sang nyai.

Dada Lia mungkin terluka, tapi liputan media dan dengan demikian perkembangan jamaahnya mendapat perhatian makin besar — suatu iklan murah. Ia membangun markas di sebuah vila di Puncak, dan tak lama kemudian massa membakarnya habis karena keberatan dengan kegiatan Salamullah yang mereka yakini menyebarkan ajaran sesat. Ia memindahkan markas besarnya ke rumah pribadinya yang cukup besar di Senen.

Lia makin gencar memproduksi surat-surat wahyu untuk dikirimkan ke sejumlah orang dan instansi pemerintah. Organisasinya tertata makin rapi. Surat-surat berisi kabar gembira dan ancaman itu, sebagai konsekuensi logis jika seseorang atau suatu lembaga pemerintah tidak melakukan apa yang dianjurkannya, bisa setebal 50 puluh halaman.

Surat-surat itu dicetak di atas kertas berkop “God’s Kingdom” atau “Kerajaan Tahta Suci Tuhan”. Seorang juru tulis yang piawai, Manhar, mantan aktifis politik yang gigih, dengan tekun mencatat dan mengedit ucapan-ucapan Lia untuk dikemas sebagai surat kepada publik.

Manhar yang loyal total sangat terpukul ketika dua tahun lalu diusir oleh Baginda Lia dari markas, atas dosa yang tidak dia jelaskan kepada saya. Ia memohon ampun, tapi wahyu tak bisa ditawar. Ia terpaksa keluar, lalu menumpang di kamar indekos anak tirinya di dekat markas, agar ia tetap bisa dekat dengan markas yang masih menjadi tempat tinggal isteri dan dua anak kandungnya, sepasang gadis remaja kembar. Ia ingin terus mengabdi. Ia memohon agar tetap diberi kesempatan untuk sekadar menyirami tanaman di halaman markas Tahta Suci Tuhan. “Wahyu bukan objek untuk tawar menawar,” kata Ratu Surga.

“Saya tidak tahu bagaimana cara melanjutkan hidup,” kata Manhar kepada saya. “Seluruh hidup saya berpusat pada jamaah. Saya sangat tidak siap menghadapi dunia luar.”

Ia memang jarang sekali keluar markas — suatu transformasi ekstrem untuk seorang aktifis politik yang pernah membentuk komite pemantau pemilu bersama sejumlah tokoh nasional. Kadang ia bersama beberapa anggota jamaah mengunjungi kawan-kawan lama. Tapi mereka tidak mau menyantap makanan dan minuman yang disuguhkan dengan gratis. Setidak-tidaknya mereka harus memberikan jasa kepada tuan rumah — yang lazim adalah berupa pemijitan. Makanan dan minuman di rumah kawan adalah imbalan bagi jasa pijit yang mereka berikan.

Setelah tiga bulanan dipersona-non-grata oleh Baginda Lia Eden, dan selama masa itu Manhar menumpang di rumah kakaknya di Cengkareng sambil membuka warung kecil, ia suatu sore dengan gembira mengabarkan kepada saya: “Alhamdulillah, saya sekarang sudah kembali ke jamaah. Ini nomor baru saya.”

Orientasi hidup Manhar pulih, dan ia siap untuk kembali mencatat wahyu Paduka Lia, sambil menyelinginya dengan menyirami tanaman di markas Ratu Surga bersama isteri dan kedua puteri kembarnya.

*

Dua kali pemenjaraaan, masing-masing dua dan dua setengah tahun pada 2006 dan 2009, tak menyurutkan aksi-aksi spiritual Lia Aminuddin. Pada kasus pertama, ia dituduh dengan pasal penistaan agama. Ia ditangkap, dan kepada polisi yang menangkapnya ia mengajukan tawaran: bebaskanlah dirinya, dan sebagai imbalannya ia akan menghentikan luapan lumpur Lapindo Sidoradjo dan letusan Gunung Merapi Jogja. Majelis hakim mendengar tawaran simpatik itu, tapi mereka tetap berpegang pada bunyi undang-undang.

Siapapun yang peduli pada konsistensi akan kesulitan menghadapi Lia Eden. Klaim dan instruksinya, juga gelar-gelar yang ia sematkan kepada dirinya sendiri maupun anggota-anggota utama jamaahnya, berubah-ubah.

Semula ia menyatakan dipacari jin dan berjumpa dengan Bunda Maria (tak perlu ditanyakan soal kaitan keduanya), kemudian dia sendirilah yang menjelma Bunda Maria. Tak lama kemudian ia menjadi Jibril, tapi posisi ini lalu dialihkan kepada orang lain. Ia sendiri kemudian duduk di singgasana Tahta Suci Tuhan, tanpa eksplisit mengklaim bahwa dialah Tuhan. Ia hanya menyatakan ada kerajaan di surga, dan dialah ratunya — jadi lebih tepat disebut keratuan, bukan kerajaan.

Penampilan fisiknya pun berganti-ganti. Begitu juga kursi singgasananya. Ia pernah mencoba beberapa warna untuk jubah kebesarannya, hijau, coklat, lalu merasa mantap dengan putih, sama dengan busana resmi para anggotanya. Pakaian itu identik dengan ihram haji, bentangan kain 7 meter yang dililit-lilitkan begitu rupa hingga menjadi pakaian penurup aurat.

Ia pernah memakai tiara mahkota, lalu berganti dengan akar dan daun seperti yang dikenakan Yesus Kristus, dengan tongkat yang berganti-ganti pula — dengan desain tiruan mentah atas benda-benda serupa di kerajaan-kerajaan sungguhan seperti Inggris atau Vatikan. Mungkinkah pembisiknya lebih dari satu malaikat, dengan selera artistik mereka masing-masing?

Ia juga pernah menggunduli habis rambutnya, seperti para bikhuni Budha. Persentuhannya dengan Budhisme ini cukup aneh, sebab program utama Lia (setidaknya salah satu yang utama, sebelum kemudian mungkin berubah) adalah mempersatukan Yahudi, Kristen dan Islam. Baginya, keterpisahan ketiganya itulah sumber segala masalah manusia, sebagai individu maupun warga global. Ia rupanya tak peduli dengan penganut agama-agama lain, yang jumlahnya tak kalah dari gabungan pengikut ketiga agama tersebut.

Penggunaan nomenklatur agama-agama mapan oleh Lia menunjukkan ia tidak sanggup menciptakan sesuatu yang sama sekali baru, meski ia mengklaim membawa ajaran yang berbeda dari semua agama yang pernah ada. Ia terutama tak mampu keluar dari nomenklatur agama yang diakrabinya sejak lahir, Islam. Maka ia meminjam Jibril, sangkakala Israfil, busana ihram, nama Salamullah — meski nama ini kemudian terbenam oleh beberapa nama lain.

*

Sejak keluar dari penjara pada 2011, aktifitas publik Lia sangat berkurang. Produksi surat-surat kabar gembira dan ancaman nyaris berhenti. Reorganisasi internal kelompoknya pun tampak sudah semakin mapan. Dan seperti di dunia material, Lia Eden pun bertendensi dinastik. Yang dijadikan orang kedua dalan struktur ajaran dan organisasinya adalah anaknya sendiri, bukan orang lain, yang tampaknya telah mendapat posisi mapan sebagai Yesus Isa Almasih.

Mungkin lagu-lagu ciptaannya tetap mengalir. Jumlahnya beratus-ratus, menurut Saif. “Ajaib, Bunda Lia tidak bisa main piano, tidak mengerti musik, tapi mampu menciptakan banyak sekali lagu!” katanya, meyakinkan saya bahwa junjungannya itu memang mendapat sesuatu yang mukjizati dari luar sejarah. Jika tidak, mana mungkin ibu rumah tangga biasa itu mampu menciptakan karya seni yang memprasyaratkan kemampuan musik?

Setelah sekian lama surut, pada 2015 Lia mengirim surat 38 halaman kepada Presiden Jokowi. Ia minta izin agar lapangan Monas dibolehkan untuk dijadikan lokasi pendaratan pesawat UFO yang ditumpangi Jibril — suatu penundaan yang cukup panjang sejak sastrawan Masdan menjemputnya di bandara Halim sekian belas tahun sebelumnya. Jibril, kata Lia, perlu datang di Jakarta untuk membereskan begitu banyak masalah yang dihadapi Indonesia.

Spiritualisme seperti yang dianut Lia memang sering menunjukkan minat besar pada urusan material, bahkan kadang dalam bentuk politik yang spesifik: ia pernah mendesak agar Ahok dijadikan presiden jika Indonesia ingin selamat.

Seperti terhadap semua figur sejenis, juga para dukun, fanatisme pengikut Lia Eden selalu sanggup menyediakan segala macam pembenaran bagi aneka inkonsistensi dan ketakterbuktian banyak nubuatnya. Mereka tetap percaya. Kami mendengar dan kami menaati, kata mereka, bahkan ketika apa yang mereka dengar berubah-ubah, dan mereka tak menemui kesulitan apapun untuk menaati instruksi yang berubah-ubah itu.

Kejutan terakhir muncul pada Minggu pagi, 11 April 2021. Jamaah Tahta Suci Tuhan mengabarkan: Paduka Baginda Lia Eden telah wafat dua hari sebelumnya, dan jenazahnya akan dikremasi — ia, dalam usia 73, memilih cara Budha sebagai babak penutup hidupnya.

*

Dengan mangkatnya Ratu Surga, apakah teater panjangnya akan berakhir? Belum tentu. Banyak preseden tentang keberlanjutan teater serupa di mana-mana setelah kematian pendirinya. Apalagi Baginda Lia sudah lama menyiapkan anaknya sendiri yang potensial sebagai penerus ajaran.

Gereja Scientology di Amerika, misalnya, semakin makmur di tangan putera nabi Ron Hubbard. Anak-anak Sung Myung-moon, nabi Kristen yang pernah datang di Jakarta, melanjutkan pengelolaan gereja-gereja raksasanya (megachurch) di Amerika dan Korea Selatan, selain merambah banyak bisnis lain, termasuk industri dan perdagangan senjata.

Akumulasi modal Lia selama karirnya mungkin tidak sebesar Hubbard dan Pendeta Sung, karena itu kita belum tahu apa yang akan dikerjakan oleh para pengikutnya yang merasa hampa dan gelisah. Kita juga belum tahu apakah Jibril menghentikan bimbingannya setelah telinga batin Lia Aminuddin tak mungkin lagi dibisiki sesuatu.

Barangkali ajaran Tahta Suci Tuhan Salamullah Eden akan mengering, seperti bunga-bunga Lia Aminuddin. *

Penulis: Hamid Basyaib

Penulis Buku 

BERIKAN KOMENTAR POSITIF

Ayo berikan komentar
Tuliskan nama