Sabtu, November 27, 2021

Pahlawan Milenial Berjuang untuk Masyarakat

Baca Juga

MATA INDONESIA, – Bicara pahlawan tentu semua orang punya definisi masing-masing. Terlintas di benak orang-orang tertentu pahlawan super macam superman, Iron Man, dan lain-lain. Sebagian langsung memikirkan nama-nama besar pahlawan pejuang kemerdekaan bangsa Indonesia seperti, Jenderal Soedirman, Pangeran Diponegoro, hingga pahlawan pejuang emansipasi perempuan yang terkenal degan bukunya “Habis Gelap Terbitlah Terang” R A Kartini. Lalu seperti apakah sosok Pahlawan di mata generasi Milenial Indonesia saat ini?

Atau, masihkah ada sosok pahlawan di masa seperti sekarang ini? Setiap hari kita disuguhi pemberitaan di berbagai media seperti, aksi kriminal, korupsi para pejabat negara, dan lain-lain yang semakin membuat kita semakin mempertanyakan hal- hal di atas. Namun disamping itu semua, sebagai warga Jambi, penulis merasa ada beberapa tokoh yang sebenarnya layak menjadi pahlawan. Asumsi penulis, mereka adalah sosok yang peduli dan berjuang untuk wilayannya. Para sosok ini benar-benar mengabdikan dirinya sendiri untuk kepentingan masyarakat.

Firdaus, pendamping Suku Anak Dalam 

Saat acara peresmian kawasan khusus wilayah kelola Masyarakat Suku Anak Dalam di Jambi beberapa waktu lalu, ada sosok pemuda bernama Ahmad Firdaus. Ia merupakan seorang pendamping bagi masyarakat hukum adat Suku Anak Dalam (SAD) di Kabupaten Tebo, Jambi.

Saat bertemu, pria yang akrab disapa Firdaus ini menceritakan tentang perjuangannya dalam mendorong anak-anak SAD yang ada di daerahnya untuk bisa membaca, menulis, dan berhitung. Tak mudah untuk berjuang baginya, namun ia tetap semangat dalam setiap hari ia melakukan pendampingan. Karena menurutnya, tanpa pendidikan masyarakat SAD di daerahnya akan selalu menjadi korban perampasan hutan yang pada hakikatnya merupakan ruang hidup bagi SAD.

Cerita perjuangan sosok Firdaus berawal dari tahun 2009. Saat itu ia beserta rekan-rekannya masuk ke wilayah hidup masyarakat SAD. Mereka memulai sosialisasi agar masyarakar tak lagi menjadi korban atas korporasi yang selalu terus melakukan ekspansi kawasan bisnisnya dengan merambah kawasan hutan SAD. Tahun demi tahun berlalu, masyarakat SAD pun menerima baik Firdaus beserta rekan-rekannya. Kini anak-anak SAD di daerah dampingan Firdaus telah lancar membaca, menulis, berhitung. Dan ini membuat mafia lahan maupun oknum-oknum tertentu yang ingin memperalat mereka kesulitan. Apalagi kini dengan bantuan pendampingan dari Firdaus beserta rekan-rekannya yang tergabung dalam yayasan Orang Rimbo Kito (Orik).

Bagi mereka Firdaus merupakan sosok pahlawan. Berkat pertolongannya kini warga SAD tak lagi buta huruf dan tak harus menjadi korban dari para mafia lahan, korporasi, dan berbagai macam oknum yang ingin memperalat SAD.

Meski diakui Firdaus bahwa tak mudah untuk bisa sampai ke tahap sekarang, namun suatu kepuasan batin melihat perkembangan warga SAD saat ini. ”Setidaknya mereka sudah tak buta huruf lagi, bisa baca, tulis, hitung setidaknya baca, tulis, hitung menjadi suatu modal untuk bertahan bagi mereka di zaman sekarang ini,” kata Firdaus.

Gentar, Penjaga Hutan Konservasi Suku Anak Dalam 

Gentar (berbaju Hitam)
Gentar (berbaju Hitam)

Namanya unik, Gentar. Ia adalah warga Suku Anak Dalam (SAD) yang juga masuk ke dalam SAD dampingan Yayasan Orik yang dikomandoi oleh Firdaus. Masifnya deforestasi di wilayahnya membuat jiwanya tergerak untuk menjaga kawasan hutan seluas 75 hektare yang berada di wilayahnya. Dimulai dari tahun 2010 Gentar telah berjuang untuk mempertahankan hutannya.

Sama seperti Hutan Konservasi. Warga sekarang bisa mencari hasil hutan di sana dengan cara berburu, mencari ramuan dan sebagainya. Gentar melarang dan tidak memperbolehkan kawasan hutan tersebut untuk dijadikan sebagai tempat pertanian atau perkebunan.

Meski tanpa legalitas, ia tetap memperjuangkan kawasan hutan tersebut. Menurutnya semakin hari, hutan di daerahnya semakin menyempit karena masuknya perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI) maupun Hak Guna Usaha (HGU). Hilangnya hutan tentu sangat berpengaruh terhadap mata pencaharian SAD sendiri. Kadang dia ingat masa kanak-kanak ketika ia beserta kawan-kawan SAD nya masuk dan mencari penghidupan di Hutan.

 

Leni Haini, mantan Atlet Dayung Peraih Kalpataru.

Ia seorang mantan atlet dayung provinsi Jambi yang telah menjuarai berbagai kompetisi dalam dan luar negeri. Kini Leni Haini sudah dilupakan dari dunia Olahraga nasional. Ia kini mendirikan sekolah dayung miliknya sendiri.

Sebelumnya, Leni tinggal di daerah yang penuh dengan pecandu Narkoba. Merasa bahwa kampung tempat tinggalnya harus segera diperbaiki, dia mulai menggagas Kampung Legok Bersinar (Bersih dari Narkoba). Ia merekrut anak-anak muda kampungnya untuk menjadi murid sekolah dayungnya. Kemudian untuk para ibu-ibu Janda di kampungnya ia berdayakan dengan kegiatan daur ulang sampah menjadi bahan olahan bernilai jual. Untuk barang baku sampahnya ia peroleh dari membersihkan suatu danau di dekat kampungnya, bernama Danau sipin.

Tak tanggung-tanggung atas kepeduliannya terhadap lingkungan ini Danau Sipin Jambi yang sebelumnya terkesan jorok dan banyak sampahnya, kini menjadi lebih bersih. Leni pun sampai mendapat penghargaan Kalpataru dari menteri lingkungan Hidup Siti Nurbaya atas segala kepeduliannya terhadap lingkungan hidup.

Dengan mengisi hidup bagi banyak orang di kampungnya dengan berbagai kegiatan positif ia berharap perlahan mimpinya untuk kampung halamannya yang Bersinar (Bersih dari Narkoba) dapat terwujud.

Tiga tokoh diatas merupakan sosok Pahlawan dimata penulis sendiri. Sebuah perjuangan penuh tekad demi mewujudkan suatu impian ideal yang bukan hanya demi diri sendiri namun demi kebaikan banyak orang. Ini baru namanya keren, mengisi Kemerdekaan bangsa Indonesia yang susah payah diperjuangkan oleh para pahlawan kemerdekaan dimasa lampau.

Semangat untuk jalani hari dengan berbuat pelbagai hal positif yang berdampak bagi orang banyak. Meski mungkin telat, tetapi izinkan penulis untuk menuliskan, selamat hari pahlawan bagi para pahlawan masa kini. Kiranya perjuangan kalian menjadi inspirasi bagi puluhan ribu lebih generasi milenial yang tersebar dari sabang sampai merauke.
Merdeka!

Nama    : Juanson Ambarita

Ig : juan.ambarita

BERIKAN KOMENTAR POSITIF

Ayo berikan komentar
Tuliskan nama

Berita Terbaru

Waspada! Varian Omicon Jauh Lebih Mengkhawatirkan dari Delta

MATA INDONESIA, NEW YORK – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa strain B.1.1.529 dari virus corona yang baru ditemukan...
- Advertisement -

Baca berita yang ini