MATA INDONESIA, – Merdeka ! Kalimat itu sudah terdengar di telinga kami, masyarakat Indonesia, sejak 75 tahun lalu. Indonesia, bulat sudah usiamu yang ke 75 tahun.

Tujuh puluh lima tahun, sang Saka Merah Putih berhasil berkibar dengan bebas dari ujung hingga ujung Tanah Air. Selama itu pula, kami para pemuda Indonesia dapat mengenyam pendidikan dengan baik, layak, dan merdeka dalam belajar, menikmati pula hasil jerih payah bumi pertiwi sendiri, pun mendapat pengakuan sebagai seorang pribumi yang bebas.

17 Agustus 1945, menjadi awal yang baru untuk perjuangan bangsa Indonesia ke depannya. Hari dimana semua berawal. Titik permulaan perjuangan para pemuda dalam meneruskan tongkat estafet dari tokoh-tokoh bersejarah, pahlawan Indonesia.

Di usianya yang ke-75 tahun ini. Perayaan kemerdekaan menjadi berbeda. Berbeda, bukan berarti menjadi penghalang bagi para pemuda untuk tetap merayakan kemerdekaan bangsa ini. Sebab, Indonesia telah terbiasa dengan perbedaan. Maka tak heran bahwa para pemuda dapat beradaptasi dengan hal yang baru dan berbeda dari sebelumnya. Karena ada sebuah kalimat yang telah melekat pada bangsa Indonesia, bahwa sekali merdeka, tetap merdeka.

Wabah yang telah menyerang bangsa kita, sedari awal tahun 2020 belum kunjung usai. Mengharuskan semua kegiatan dibatasi, hingga perayaan kemerdekaan pun harus dilaksanakan di rumah masing-masing.

Bahkan, pengibaran sang Saka Merah Putih yang biasanya dihadiri ribuan orang. Kini, hanya tinggal segelintir para perwakilan negara. Para pemuda yang biasanya berjajar bertugas sebagai pengibarnya pun juga dikurangi jumlahnya. Pun kami para pelajar yang di tahun sebelumnya biasa mengikuti upacara di sekolah, memanjatkan doa terbaik bagi bangsa Indonesia, dan mengheningkan cipta untuk mengenang jasa para pahlawan, sekarang semua harus dilakukan di rumah saja.

Pun aku yang biasanya duduk menunggu nomor undianku dipanggil dalam acara gerak jalan peringatan kemerdekaan. Kini harus duduk di depan layar kaca televisi, menonton upacara kemerdekaan di Istana Merdeka.

Sepanjang mata memandang dan telinga mendengar, tidak ada lagi tawa dari peserta lomba-lomba kemerdekaan yang biasanya turut memeriahkan. Tidak ada lagi acara berkumpul warga kampung yang biasanya digelar sore menjelang malam hari sebagai peringatan hari bersejarah.

Iba, sedih, dan senang, seolah menjadi satu, sebagai sebuah perasaan yang tak bisa terungkapkan dan teruraikan. Iba karena melihat kondisi sang Pertiwi yang semakin ke sini semakin parah karena pandemi. Juga tidak tahu harus senang atau sedih ketika bangsa Indonesia telah menginjak usia yang ke-75 tahun ini.

Tapi bagiku, suasana kemerdekaan yang berbeda ini bukan menjadi akhir bagi bangsa Indonesia. Di usianya yang ke-75 tahun ini, merupakan tanda untuk para pemuda agar lebih keras dan giat dalam mempertahankan keutuhan bangsa, mengurangi semua pro dan kontra yang tersebar, juga memperkokoh jiwa nasionalisme bukan individualisme.

Itu semua yang menjadi harapan dariku untuk sang Pertiwi di usianya yang ke-75 tahun ini.

Akan tetapi, sedikit nahas. Pertiwi yang tengah berduka, harus rela ditambah laranya oleh konflik dan pertikaian di dunia nyata maupun maya, demo yang merajalela dimana-mana, juga seolah tak mau kalah penyebaran berita HOAX yang seolah sudah memenuhi beranda media sosialku. Semuanya berhasil menyerang sendi-sendi kehidupan manusia. Bahkan di tengah nuansa kemerdekaan ini, yang seharusnya dirayakan dengan kegiatan kecil guna membangun bangsa bersama, malah dijadikan media penyebaran berita palsu oleh sebagian orang tak bertanggung jawab.

Itulah ujian bagi sang Pertiwi. Maka, tugas kita sebagai pemuda harus membantunya sembuh, agar bebannya tak turut tumbuh.

75 tahun sudah bangsa kita merdeka dari penjajah. Oleh karena itu kita harus berubah, membangun bangsa Indonesia bersama. Berharap agar pandemi ini segera usai. Lalu kita, para pejuang di tanah air ini, bisa kembali lagi menyongsong masa depan yang cerah bagi Indonesia.

Pesanku untuk sang Pertiwi, agar jangan terlarut dalam duka, sebab kami para pemuda tak akan biarkan lukamu merekah.

Penulis: Noor Cholis Hakim

Ig: @cholishkm._

FB: Noor Cholis Hakim

2 KOMENTAR

  1. Betul, karena larut dalam duka pun tidak terlalu membantu. Yang lebih membantu adalah kehati-hatian sesuai protokol. Sehingga perekonomian di tanah ibu pertiwi ini bisa berkembang seiring dengan kesehatan yang berkembang juga. Maju terus Indonesiaku, terima kasih untuk Mas Cholis, karena sudah menulis pendapat yang membangun dan menjadi bacaan positif bagi rakyat Indonesia. Semangat menulis ๐Ÿ™‚

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here