Minggu, Oktober 24, 2021

Mentalitas Pemuda untuk Kebangkitan Bangsa

Baca Juga

MATA INDONESIA, – Bung Karno pernah berkata “beri aku 1000 orangtua niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, beri aku 10 pemuda niscaya akan kugoncangkan dunia”.

Sebegitu berpengaruhnya pemuda terhadap kebangkitan bangsa. Tentu pemuda yang dimaksud disini adalah pemuda yang bisa memberi perubahan, bukan yang hobinya hanya rebahan. Yang memberi manfaat bagi orang sekitar, bukan yang hanya jadi beban keluarga, kalau kata anak sekarang. Lalu bagaimana dengan keadaan pemuda Indonesia sekarang? kita cukup berbangga karena banyak torehan prestasi dari anak muda Indonesia, baik dari akademik, olahraga, bisnis dan masih banyak sektor lainnya. Namun, tak sedikit juga pemuda yang membuat malu bangsa karena tindakan ceroboh mereka.

Sempat heboh saat Indonesia mendapat gelar sebagai netizen paling tidak sopan se-Asia Tenggara. Kemudian berdasarkan hasil survei PISA tahun 2019, Indonesia juga menempati ranking ke 62 dari 70 negara berkaitan dengan tingkat literasi. Hal tersebut berpengaruh pada rendahnya daya saing, indeks pembangunan SDM, inovasi sampai income per kapita. Maka inilah pentingnya memperbaiki mentalitas pemuda di Indonesia untuk kemajuan bangsa.

Pudarnya Kemerdekaan Berpikir

Pernah kah kamu merasa tidak percaya diri saat diminta mengemukakan pendapat dihadapan orang lain? merasa takut kalau pendapatmu dianggap remeh atau berbeda dengan yang lain? ketidakpercayaan diri ini setidaknya menunjukan bagaimana mulai pudarnya kebebasan berpikir pada dirimu.

Banyak remaja yang tidak berani keluar dari zona nyaman, hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh orang lain dengan alasan tak mau terlihat “berbeda” dan takut terpinggirkan. Mungkin karena memang dari kecil kita terbiasa untuk mengikuti sistem yang sudah ada atau rumus yang sudah tersedia. Kita tak terlalu diberi kebebasan untuk berkreasi dan mencoba menciptakan sebuah rumus baru.

Padahal untuk mendapatkan hasil 2 tak selalu harus 1+1 bukan? namun rasanya otak ini sudah termindset seperti itu. Maka, penting bagimu untuk menumbuhkan kembali kebebasan berpikir pada diri. Kebebasan berpikir ini dapat diartikan sebagai kebebasan dalam mengungkapkan pikiran baik melalui lisan, tulisan maupun tindakan yang secara bertanggungjawab dan sesuai dengan peraturan yang ada. Dengan adanya kebebasan berpikir inilah kita dapat lebih terbuka dan tidak kaku dengan sistem yang sudah ada. Kebebasan berpikir menjadi pondasi untuk bisa membuat sebuah inovasi.

Kamu pasti tau aplikasi Gojek bukan? untuk kamu yang tinggal di Jakarta, mungkin aplikasi ini setiap harinya kamu pakai. Berawal dari keresahan Nadiem Makarim melihat bagaimana inefisiensi pasar dalam bisnis ojek, seringkali saat tidak dibutuhkan banyak ojek yang nongkrong, namun saat dibutuhkan malah tidak ada. Jika kamu kembali ke tahun 2015 dimana pertama kalinya aplikasi Gojek hadir, saya rasa pasti awalnya kamu juga akan merasa ragu dan aneh mungkin dengan penggunaan aplikasi ini.

Keraguan dan ketidakyakinan akan penerimaan orang lain terhadap ide yang kamu bawa merupakan hal biasa. Dengan kemerdekaan berpikir inilah pondasi awalmu untuk bisa berkembang. Awalnya mungkin akan terasa aneh untuk diterima, namun coba sekarang kamu lihat bagaimana Gojek menjamur dimana-mana. Jadi, jangan pernah merasa kecil dengan setiap pemikiran yang ada dikepalamu karena kamu tak pernah tahu seberapa besar dampaknya kepada orang lain.

Krisis Moral

Masih ingatkah kamu dengan video viral seorang anak muda yang melakukan prank dengan berpura-pura memberikan bingkisan berisi sampah dan batu yang ia bagikan ke transgender di saat pandemi? Atau mungkin kasus hate comments yang diterima influencer Rachel Venya dan sempat membuah heboh media sosial.

Krisis moral pada remaja ini berasal dari faktor yang beragam, mulai dari keluarga, lingkungan pertemanan sampai tontonan yang dikonsumsi. Yang kadang tidak disadari para remaja, krisis moral ini juga bisa berbentuk perlakuan seperti body shaming yang dikemas dengan label “cuma bercanda”. Atau sebuah perundungan di sekolah yang mungkin hanya dianggap sebagai kesenangan atau main-main belaka, namun memberi efek trauma berkepanjangan bagi korbannya.

Dari sisi pelaku, sifat dan kebiasaan seperti itu kemungkinan akan terbawa sampai dia dewasa. Tentunya jika hal ini terjadi, maka akan merusak moral di masyarakat atau lingkungan sekitarnya. Bagi para korban, perlakuan seperti itu sangat mungkin menurunkan tingkat kepercayaan diri dan bahkan bisa membuat mereka menarik diri dari masyarakat. Maka penting untuk menanamkan pendidikan karakter sejak dini sebagai tameng menghadapi berbagai pengaruh buruk yang ada dan mengembangkan kebiasaan untuk berpikir lebih dulu, sebelum bertindak dan berbicara. Karena untuk menjadi pemuda yang berkualitas, tak cukup hanya berprestasi namun juga harus diimbangi dengan etika yang dijunjung tinggi.

Konsumtif Berkedok Self Reward

Untuk kamu yang sudah bekerja, sering merasa gaji tiba-tiba habis begitu saja? sudah mendekati umur 30 tahun namun tabungan masih segitu-segitu saja? mungkin ada yang salah dengan caramu mengelola uang saat umur 20 tahunan dan akhirnya menjadi kebiasaan. Salah satu dampak adanya media sosial adalah orang-orang ingin selalu tampil modis dan hunting ke berbagai tempat yang dirasa instagramable.

Pengeluaran tersebut terkadang dibungkus dengan label self reward, sebagai bentuk atas kerja keras selama sebulan bekerja. Bukannya tak boleh memberikan self reward maupun waktu liburan untuk diri sendiri, namun yang terkadang dilupakan adalah batasan pengeluaran pos tersebut. Inilah pentingnya bagi generasi muda untuk memahami pengelolaan keuangan sedari kecil, dari uang saku yang diberikan orangtua misalnya.

Mungkin kamu pernah mendengar bahwa generasi milenial dinilai susah untuk punya rumah, salah satu sebabnya karena generasi milenial cenderung lebih konsumtif. Hal ini tentunya tak terlepas dari tingkat literasi keuangan yang masih rendah. Riset dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, kalangan milenial usia 18-25 tahun hanya memiliki tingkat literasi sebesar 32,1 persen, sedangkan usia 25-35 tahun memiliki tingkat literasi sebesar 33,5 persen.

Maka dari itu, sangat penting bagi kita untuk mempelajari dan memahami pengelolaan keuangan yang baik. Mulai dari pemetaan pengeluaran dari penghasilan yang diterima, mempersiapkan dana darurat, memilih instrumen investasi sampai mempersiapkan dana pensiun. Dengan perkembangan teknologi, saya rasa tak akan sulit untuk mulai belajar sedikit demi sedikit mengenai pengelolaan keuangan melalui berbagai platform yang ada.

Hambatan dan tantangan pastinya akan selalu ada untuk menghasilkan pemuda yang berkualitas, karena pelaut yang tangguh tidak lahir di laut yang tenang. Maka diperlukan kerjasama dan sinergi yang baik dari berbagai pihak. Diharapkan dengan banyaknya pemuda yang berkualitas dapat memberikan perubahan dan inovasi untuk kemajuan bangsa Indonesia, serta bisa terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Penulis:  Lila Ariana Luky

Instagram : @lilaluky

BERIKAN KOMENTAR POSITIF

Ayo berikan komentar
Tuliskan nama

Berita Terbaru

Daebak, Kim Seon Ho Kokoh di Puncak Aktor yang Menghasilkan Buzz Terbanyak!

MATA INDONESIA, SEOUL – Pada pekan terakhir penayangannya, serial tvN “Hometown Cha-Cha-Cha” kokoh di peringkat pertama, begitupun dengan dua...
- Advertisement -

Baca berita yang ini