MATA INDONESIA, Segarnya udara pagi, saat hempasan angin dari pohon semoga bisa tetap kita nikmati. Pancaran sinar matahari di siang hari dan terangnya bulan di malam hari semoga tetap memberikan kenyamanan untuk kita.

Dikala bumi ini masih sakit, karena kedatangan makhlukNya, Allah selalu menyelipkan nikmat untuk semesta alam. Makhluk covid-19 (corona) datang tanpa permisi tak ada yang tahu misi apa yang dibawa, hingga sebagian besar dari hambaNya harus pulang menghadap RabbNya.

Berbagai isu silih berganti tiada henti. Virus ini telah mengerogoti sistem politik, ekonomi, sosial, budaya dan lebih parahnya pada pendidikan. Pendidikan pun online mulai dari TK, SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi. Peristiwa ini seakan-akan kembali ke perjuangan pahlawan selama 350 tahun melawan kekejaman kolonialisme.

Perjuangan itu sejalan dengan perjalanan seorang anak yang mampu menginspirasi perayaan HUT RI disaat pandemi. Nur Alfurqon itu nama dia. Di kampung ia biasa dipangil Furqon dan masih duduk di kelas 5 SD. Beginilah kisahnya;

Aku berjalan ke arah rumah Pak RT untuk rapat panitia lomba 17 Agustus 2020. Ketika berangkat dari rumah kira-kira pukul 20.00 WIB, tiba-tiba ada anak kecil yang memanggil dan berlari. Senyumnya membuat aku sedikit bigung. Awalnya, aku tak mengenal dirinya jika dilihat wajahnya itu masih asing di kampung ini. Rupanya benar, ia bukan warga sini. Dia memperkenalkan diri dan memanggilku karena hanya ingin tahu kapan pendaftaran untuk lomba 17 Agustus. Aku mengatakan nanti ada brosur yang tertempel di papan pengumuman Poskamling. Dengan wajahnya yang gembira dia menjawab terimakasih. Akhirnya, Furqon berputar arah untuk pulang. Sedangkan aku terus berjalan ke rumah Pak RT.

Sesampainya di rumah Pak Tono (ketua RT), kami pun  berdiskusi. Pertanyaan secara bergantian dari panitia diajukan. Terlintas bayangan Furqon sehingga aku memberanikan diri untuk bertanya. Diperbolehkan atau tidak anak yang berbeda RT mengikuti perlombaan. Pak RT menjawab dengan cukup singkat. Di kampung sebelah tidak mengadakan acara 17 Agustus, sehingga ia memperbolehkan orang di luar lingkungan RT untuk ikut juga.

Perayaan kemerdekaan ini memang berbeda jauh dengan tahun lalu. Jika tahun sebelumnya diadakan pesta dengan organ tunggal dan berbagai perlombaan dari mulai anak-anak, remaja, ibu-ibu hingga bapak-bapak, sekarang kondisinya berbeda. Pak RT memutuskan beberapa lomba saja yang diadakan. Perlombaannya yaitu mewarnai, mengambar, cipta puisi dan cipta karya dari barang bekas. Selain itu, lomba ini bersifat indoor di rumah Pak Tono.

Langit dengan garis birunya membawa cuaca cerah. Brosur itu tertempel di papan Poskamling. Jarak antara Poskamling dan rumahku tidak jauh dan terlihat dari jendela rumah.

Sekumpulan anak saling menanyakan tentang perlombaan dengan candaan yang khas. Kebetulan aku diberi amanah untuk mendata peserta lomba. Ketika pintu rumah kubuka ternyata mereka sudah menunggu di depan teras. Satu persatu anak-anak tersebut mendaftarkan diri. Antusias mereka beragam, ada yang memberanikan diri memilih lomba, ada yang malu untuk mengatakan dan ada yang bingung. Anehnya dari mereka, ada yang memilih lomba untuk temannya.

Selepas semua aku data, total yang mengikuti lomba ada 30 anak dari berbagai lomba. Aku sempat heran, tidak ada yang namanya Furqon. Waktu terus berjalan hingga melewati batas pendaftaran Furqon tidak datang.

Suara Azan Ashar berkumandang, tampaknya mentari segera akan beranjak ke barat. Seusai sholat ashar, ketukan pintu rumah dan suara salam anak kecil hadir di rumahku. Benar, Furqon datang dengan wajah kusutnya. Aku sedikit lega ketika dia mengabarkan dirinya sehat. Syukur Alhamdulilah kata batinku. Ia mendaftarkan diri dan lomba yang dipilih cipta puisi.

Tiba-tiba rasa ingin tahuku muncul. Tanda tanya besar muncul, apa yang menjadikan anak ini terlambat datang ke rumahku. Sambil mempersilakan duduk, kuselipkan sedikit pertanyaan kenapa ia terlambat. Lalu, Furqon mulai mengutarakan alasan. Dia mengawali dengan kata terimakasih karena sudah memperbolehkan mengikuti lomba. Menurut Furqon, semenjak sekolah online, ia memanfaatkan sebagian waktu untuk bekerja di Pabrik Tahu. Ia senang karena dari hasil pekerjaanya selama dua minggu, ia mendapatkan upah sebesar Rp 100.000 rupiah. Kemudian terselip sebuah harapan bahwa ia ingin memenangkan perlombaan ini. Alasannya cukup sederhana, Furqon ingin mendapatkan hadiah buku tulis.

Sekolah online selama pandemi memberikan kabar pahit.  Furqon harus kehilangan namanya sebagai juara kelas yang dirintis dari kelas satu. Di semester ini, nama dia tidak terdaftar sebagai peringkat terbaik. Hal ini membuat dia harus menyerahkan hadiah ranking pertama di kelasnya yaitu buku tulis. Hal ini menyakitkan dirinya karena ia butuh buku tulis. Furqon pun mengaku uang upah yang ia terima dari hasil pekerjaanya di Pabrik Tahu diserahkan ke ibunya untuk melunasi hutang. Bagi dia salah satu jalan alternatif mendapatkan buku tulis gratis adalah menjadi juara di di perayaan 17 Agustus.

Aku pun terdiam dan tak sadar meneteskan air mata. Furqon pun mengatakan dia tidak suka dengan sistem online dalam belajar. Ia tidak punya ponsel. Ia harus bolak balik ke temannya untuk menanyakan tugas, PR, absensi dan ujian. Itupun dia harus nitip ke temannya. Tak heran, nilai dia jeblok di sekolah.

Aku peluk dan kutepuk pundak dia dengan bisikan bahwa dia anak pintar dan tetap harus semangat.

Suara qira’ Qur’an mengisyaratkan akan tiba Azan Maghrib. Furqon pun pamit karena harus membantu ibunya menyiapkan makanan untuk berbuka puasa.

Cahaya terang bulan itu menghampiri malam hari. Kini tugasku dan anggota panitia menata rumah Pak Tono untuk acara besok. Perayaan 17 Agustus sengaja diajukan tanggal 2 Agustus 2020. Ditanggal 17 Agustus nanti acara hanyalah tahlilan. Ini terasa lebih afdol untuk menggantikan acara organ tunggal.  Bendera plastik mengelilingi depan rumah Pak Tono, menjadikan ciri khas perayaan 17an.

Keesokan harinya pintu rumah Pak RT dibuka lebar. Semangat anak-anak tampak terlihat dari raut muka mereka. Seolah tak sabar. mereka duduk di depan teras menunggu namanya dipanggil untuk masuk. Dari sudut teras, Furqon tersenyum sambil memandang wajahku. Lomba mewarnai dan mengambar ada di ruang tamu. Sedangkan lomba cipta puisi dan cipta karya ada di ruang tengah. Keseruan lomba itu memberikan warna yang beragam. Minimnya fasilitas yang ada, tidak menyurutkan semangat dari peserta lomba. Candaan anak-anak menghanyutkan ketegangan dan kebosanan.

Saat perlombaan pembacaan puisi, tingkah polah anak-anak cukup mengundang tawa panitia. Ada yang memandang ke langit-langit rumah, ada yang berbicara tak bersuara, ada yang semangat saat membaca puisi.

Selepas perlombaan para panitia sibuk merapikan tempat. Aku memegang kertas lomba cipta puisi, satu persatu aku baca. Satu diantara 10 puisi membuat kagum pada puisi yang berjudul ” Kemerdekaan yang Abadi”. Dengan tertera nama Nur Alfurqon.

Tujuh hari setelah perlombaan, diadakan penilaian dari warga. Di halaman Pak Tono yang sedikit lebar, dibuatlah festival miniatur. Berbentuk persegi dengan sudutnya dibuat dari bambu yang dihubungkan bersama benang wol. Semua hasil karya perlombaan ditempel dan dijepit menggunakan penjepit baju. Nama peserta lomba di tutupi. Warga kampung dipersilahkan untuk memberikan satu bintang pada setiap karya. Bintang terbuat dari kertas berwarna hijau untuk cipta puisi, merah untuk mewarnai, kuning untuk menggambar dan biru untuk cipta karya.

Berbondong-bondong warga mulai memadati rumah Pak Tono. Silih berganti, warga masuk ke dalam festival miniatur itu. Mentari naik seperti diatas kepala, menandakan penilaian itu berakhir. Pemenang lomba akan diumumkan nanti malam setelah selesai Azan Isya.

Malam harinya, lampu menghiasi halaman rumah Pak RT sehingga suasana menjadi semarak. Seluruh warga entah anak-anak ataupun orang tua disuguhkan makanan ringan. Satu persatu pemenang setiap lomba dibacakan, hingga tiba pemenang lomba cipta puisi dipanggil. Dengan pembacaan Bismillahirahmanirahim, nama Nur Alfurqon dipanggil sebagai juara satu. Raut wajah Furqon berseri-seri dan tersenyum. Alhamdulillah impiannya terwujud. Ia mendapatkan hadiah buku dan uang santunan.

Mungkin kita tak sadar dengan prinsip perjuangan. Mencoba belum pasti mendapat keberhasilan tetapi tidak mencoba pasti mendapat kegagalan. Seperti halnya Furqon yang mampu menghidupkan semangat untuk hidup. Dia tidak ingin membebani kedua orang tua yang dicintai.

Tetaplah semangat dan sabar menghadapi keadaan yang ada. Meskipun kita belum menang melawan Covid-19, percalah ‘sekali merdeka tetaplah merdeka’. Selamat Dirgahayu Indonesiaku ke 75 tahun.

Penulis: Amma Chorida Adila
Fb: @amma chorida adila
ig: @amma_chorida

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here