MATA INDONESIA – Alkisah, setelah bepergian berziarah ke beberapa maqbarah para wali sambil berselancar di dunia maya, terbersit dalam pikiran saya mengenal dakwah para ulama terdahulu yang dapat diterima oleh masyarakat umum dan sampai sekarang manfaatnya masih dirasakan oleh kita semua. Di antaranya hidup dengan damai dan beribadah dengan tenang. Nikmat ini perlu kita syukuri dibandingkan hidup di negeri konflik.

Kita bisa membayangkan dakwahnya para wali yang santun dan mengedepankan akhlak karimah dengan pendekatan budaya dan tentunya dengan cinta. Sebab kehadiran mereka dapat diterima, walaupun penuh dengan perjuangan. Model dakwah yang diajarkan Walisongo ini hendaknya kita genjot kembali di masa sekarang.

Dalam sebuah agama, tentu saja, ada banyak pemahaman berbeda di kalangan pemeluknya. Perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadi pemicu perpecahan. Sebaliknya, ia harus mampu menjadi sebuah kekayaan yang saling melengkapi.

Sayangnya, belakangan ini banyak bermunculan di dunia maya sosok ustaz yang keilmuannya bisa jadi belum mumpuni namun sudah berani “menghukumi”. Apalagi mereka ini juga banyak menyebarkan kebencian dan intoleransi atas nama agama yang mana tren ini belakangan semakin meningkat di sejumlah negara dengan populasi Muslim besar, termasuk Indonesia.

Saya kira, ada sebuah kesalahpahaman yang harus kita luruskan bersama agar mengembalikan Islam sebagai agama yang dipandang sebagaimana esensinya, yakni sebagai agama cinta dan perdamaian; agama yang tidak menciptakan bencana melainkan menyelamatkan kehidupan. Oleh karena itu kita perlu menggemakan kembali pemaknaan Islam yang lembut, menghangatkan, dan menyejukkan.

Setelah mengikuti perkembangannya terkait hal ini, saya menemukan sosok tokoh yang pantas untuk dijadikan referensi di kalangan anak muda, yaitu Habib Husein Ja’far al-Hadar. Habib kelahiran Bondowoso, Jawa Timur ini dikenal sebagai da’i milenial yang berdakwah di kalangan anak muda yang sedang asyik berkerumun di dunia ‘medsos’.

Gaya dakwahnya santun dengan tutur katanya lembut, tidak bembentak-bentak serta gaya berpakaian yang santai seperti anak muda lainya. Begitulah cara beliau agar pesan pesan keagamaan yang baik dan santun tersampaikan.

Konsep Islam Cinta adalah kampanye Habib Husein yang mana baginya agama hadir untuk manusia dan dalam kerangka hubungan dengan Allah dan persaudaraan umat manusia. Saya teringat pesan dari Sayyed Hossein Nasr yang pernah disampaikan oleh Buya Husein Muhammad bahwa “Esensi Islam adalah keesaan Tuhan dan universalitas kemanusiaan”.

Dari pesan ini kita perlu sadar bahwa beragama tidak melulu soal ibadah vertikal (mahdhoh) saja, melainkan juga ibadah dengan menghormati orang lain sebagai sesama manusia dan ciptaan-Nya.

Dalam tausiyahnya, Habib Husein pernah mengutip sebuah ayat Alquran yang artinya seperti ini “Katakan wahai Muhammad jika mereka mencintai Allah swt, maka ikutilah jalanmu.” Dari ayat ini, beliau menjelaskan bahwa sebenarnya syariat yang diajarkan oleh kanjeng Nabi Muhammad adalah syariat cinta. Artinya semua ajarannya adalah jalan cinta kita kepada Allah swt. Oleh karenanya, jangan sampai kita yang memeluk ajaran cinta namun penuh dengan kebencian dengan membenci orang lain dan mudah menyalahkan mereka.

Hakikat syariat yang diberikan kepada kita itu untuk kebaikan kita sendiri (bukan untuk Allah swt). Apabila semua ajaranya kita jalankan dengan dasar cinta, niscaya hubungan kita dengan sang Pencipta dan sesama ciptaan-Nya akan baik. Tidak ada permusuhan dan sebagainya.

Aspek cinta dan kasih sayang sangat melekat secara intrinsik dalam semua agama, termasuk Islam. Tuhan dalam Islam di gambarkan sebagai dzat yang memiliki sifat rahmān rahīm (kasih sayang) bagi seluruh ciptaan-Nya.

Namun, sangat disayangkan sekali jika belakangan ini kita sering dipertontonkan corak keberagamaan yang jauh dari semangat cinta dan kasih sayang. Yang ada justru sebaliknya, lebih condong pada kebencian, kekerasan, dan kemarahan mudah menghakimi mereka yang berbeda.

Sehingga, saya kira, pemahaman tentang Islam yang menekankan dimensi cinta dan kasih sayang perlu lebih digaungkan secara masif. Sedangkan, pengajaran dan tafsir-tafsir yang condong kepada kebencian terhadap orang yang berbeda perlu digeser dan diminimalisir.

Akhirnya, sudah sepatutnya dalam praktik keagamaan sehari-hari, kita mendasarkannya pada ajaran Islam yang penuh cinta kasih sebagaimana yang diteladankan kanjeng Nabi. Karena, semakin hilang aspek cinta dalam diri kita sebagai umat beragama, maka saya kira, kita perlu memikirkan ulang bagaimana kita memahami ajaran Islam.

Penulis: Abdullah Faiz
(arrahim.id)

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here