Suku Dani di Wamena (ilustrasi)
Suku Dani di Wamena (ilustrasi)

MATA INDONESIA, JAKARTA – Dalam sejarah rasisme di dunia, sistem rasialis tidak terjadi dengan sendirinya namun dikonstruksi dengan beberapa alasan karena kepentingan ekonomi dan politik.

Ketidakpahaman mengenai kompleksitas sistem rasialisme berpotensi menimbulkan distrust dan konflik. Salah satu kasus yang muncul beberapa minggu lalu di AS atau kasus George Floyd menjadi contoh persoalan perbedaan ras/warna kulit masih potensial menjadi gerakan sosial yang memancing solidaritas ke banyak negara.

Kekeliruan logika (false binary) dalam kasus ini mengarah pada pemahaman bahwa perbedaan rasial terbatas pada warga kulit padahal yang membedakan adalah perspektif.

Kasus Floyd berdekatan dengan dua peristiwa di Indonesia terkait hasil putusan PTUN yang mengalahkan Presiden dan Menkominfo atas kebijakan pelambatan/pemutusan internet di Papua dan Papua Barat dalam demo dan kerusuhan berseri tahun 2019. Peristiwa lain adalah tuntutan jaksa terhadap 7 tapol di PN Balikpapan.

Apakah rasialis di AS bisa dianalogikan dg kasus rasisme terhadap mahasiswa Papua di Surabaya pada Agustus 2019? Terdapat perbedaan akar masalah antara kasus Minesota dan Surabaya karena persoalan Surabaya yang disusul dengan demo dan kerusuhan anti rasisme merupakan akumulasi persoalan masa lalu dan masalah-masalah pembangunan yang belum sepenuhnya dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Papua.

Dengan kata lain, kasus rasialis yang muncul merupakan “percikan api” dari “bara api” yang belum bisa dipadamkan.

Dr. Adriana Elisabeth
Analis Papua tinggal di Jakarta

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here