Hasyim Wahid

MATA INDONESIA, – Sudah cukup lama saya tidak berkontak dengan Hasyim Wahid, karena ia sulit sekali dihubungi. Tiga nomor teleponnya seperti tak berfungsi. Maka ketika berbincang empat mata dengan Gus Dur, pada pertengahan 2000an, saya tanyakan kabarnya — tugas saya hanya menemani Gus Dur seminggu 2-3 kali di sebuah apartemen, selama dia diterapi oleh seorang dokter Amerika-Filipina dengan sebuah alat baru buatan Austria.

“Iim ke mana aja, Gus? Susah sekali dikontak.”

“Tahu, deh, saya juga sudah lama nggak ketemu,” jawab Gus Dur, sambil makan duku dengan setengah berbaring. “Tapi semalam saya mimpiin dia. Saya lagi di kamar, si Iim datang. Tapi dia cuma berdiri di ambang pintu, nggak masuk. Mungkin dia lagi sakit.”

Besoknya saya mendengar kabar: Hasyim sudah beberapa hari sakit.

Soal susahnya mengontak Hasyim bukan problem baru. Hampir semua temannya lebih sering kesulitan daripada mudah menghubunginya. Maka ketika saya tak sengaja ketemu Aziz, putera sulungnya, saya tanyakan juga kabar Gus Im.

“Ayahmu ke mana saja, sih? Semua nomor teleponnya tidak ada yang aktif,” kata saya, di sebuah kafe di Kemang Timur.

“Tauk, deh. Saya juga sudah enam tahun nggak ketemu,” jawab Aziz sambil mengisap cerutu. “Paling cuma sekali-sekali nelepon.”

Tentu tidak ada lagi yang bisa saya katakan jika dengan anak kandung yang tinggal satu kota dengannya pun tokoh enigmatik itu bisa begitu lama tak berjumpa.

Sikap itu pun cukup aneh bagi seorang yang begitu bersahabat dalam bergaul. Rupanya kontras ini pun merupakan bagian dari “misteri” Hasyim Wahid — hangat kepada kawan sekaligus sering sangat susah mereka hubungi.

Jika sedang “normal”, ia sering mengajak ngopi — atau minum Bailey’s kesukaannya — di kafe favoritnya di sebuah hotel. Kami akan mengobrol tentang Metallica dan seni membuat keris, tentang info-info intelijen dan apa yang mungkin dilakukan Amerika di negeri kita. Tentu saja juga tentang Janis Joplin, ratu white blues Amerika yang teramat digandrunginya, yang meninggal di tahun 1970 dalam usia 27.

Juga tentang lagu-lagu klasik yang didengarkan khusus oleh kakak sulungnya setiap ia harus mengambil keputusan tentang masalah berat. “Kalau dia sudah menyetel lagu-lagu itu, artinya dia sedang menghadapi masalah sulit,” kata Hasyim tentang Gus Dur.

Seusai satu perjumpaan semacam itu, ia pernah meminta saya mengikutinya ke gedung parkir. Membuka pintu bagasi mobilnya, ia mengambil gulungan dan menyerahkannya kepada saya. “Nih, gua bikinin khusus buat elu,” katanya. Sebuah poster besar hitam-putih, berisi kepala empat personel The Beatles yang dicetak di atas kain kanvas tipis.

Dia menekankan bahwa poster itu benar-benar dia buat sendiri, bukan dia minta buatkan pada orang lain, apalagi dari membelinya. Saya berterima kasih untuk caranya menyampaikan bahwa dia mencintai saya sebagai kawan.

Meskipun saya tahu ia, menjelang Reformasi, “dititipkan” oleh Gus Dur untuk duduk di kepengurusan teras PDI Perjuangan — sebagai gestur sang kakak tentang niat baik untuk menjalin hubungan lebih erat antara kubu nasionalis dan kubu Islam tradisionalis — saya tak pernah menanyakan kepada Hasyim pandangan-pandangan politiknya.

Ia sendiri tampak kurang suka pada politik an sich. Setidaknya minatnya pada politik kalah jauh dibanding gairahnya pada aspek-aspek intelijen dari politik. Ia akan bersemangat menganalisis dan menafsir makna dari suatu sikap atau komentar bersayap para politisi tertentu. Seperti hampir semua aktifis, ia melihat politik nyaris semata-mata sebagai power game.

Hal ihwal di seputar pembangunan bangsa atau kesejahteraan sosial tidaklah penting, atau merupakan sesuatu yang niscaya. Maka baginya yang lebih menarik untuk dilihat adalah permainan para aktor dengan perilaku dan komentar-komentar mereka seperti terungkap di media massa, dan Hasyim sigap membongkar apa-apa di balik yang terungkap kepada publik itu. Belum tentu akurat, tapi hal itu memompa adrenalinnya.

Karena saya bukan penganut tekun teori konspirasi dan peminat kegiatan intelijen, saya lebih banyak mendengarkannya, sambil sekali-sekali mengingatkannya jika ia mengelirukan nama-nama dalam preseden peristiwa-peristiwa masa silam yang dirujuknya. Meski selalu hangat dalam mengobrol, ia kurang berminat pada pertukaran gagasan yang intens.

Saya lebih tertarik mendengar pengalamannya selama duduk sebagai konsultan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), sebuah lembaga ad hoc yang bertugas mengakuisisi begitu banyak perusahaan swasta dengan limpahan aset mereka, sebagai kompensasi untuk ratusan triliun utang mereka kepada negara. Tapi itu cuma harapan saya. Hasyim tidak pernah menceritakan pengalamannya selama di BPPN. Saya kuatir dianggap terlalu cerewet dan usil ingin tahu, karena itu tidak pernah menanyakannya.

Posisi resmi apapun tampaknya tidak pernah mampu merintangi Hasyim untuk menjalankan hobi abadinya: mengembara ke berbagai tempat “eksotik”. Ia, misalnya, penasaran tentang hal ihwal keris. Tak puas hanya mengagumi atau mengoleksi keris-keris unik tertentu, ia mendatangi para ahlinya dan belajar membuatnya sendiri di beberapa pabrik tradisionalnya di Jawa. Ia, katanya, sering menempa besi-besi panas itu dengan tangannya sendiri.

“Keris yang bisa berdiri itu bukan karena kekuatan gaib di dalamnya,” katanya, sesudah menyisip Bailey’s di Kafe Fountain. “Keris seperti itu bisa dibuat dengan campuran beberapa jenis metal. Kalau komposisi campurannya pas, maka keris yang dihasilkannya bisa kita bikin berdiri.”

Ah, pikir saya, rupanya dia juga mendalami metalurgi, selain begitu banyak minatnya dan tampaknya tak ada satu pun yang dituntaskannya sampai ia bisa disebut memiliki otoritas di bidang itu. Yang saya tidak tahu pasti: apakah karena ia menggemari metalurgi maka ia menggandrungi grup rock Metallica atau sebaliknya.

Hasyim pernah belajar di beberapa fakultas, misalnya teknik dan ekonomi, di ITB, UI dan tempat lain, dan tak ada yang diselesaikannya. Ia juga menjajal puisi dan menerbitkan kumpulannya, diluncurkan di TIM; sebuah acara yang meriah. Semua kakak Hasyim berkumpul di Teater Jakarta itu, termasuk Gus Dur. Pembawa acara meminta komentar Gus Dur tentang makna puisi-puisi karya Hasyim dalam antologi karyanya itu.

Jawaban Gus Dur di luar dugaan: “Maknanya apa? Kok nanya saya? Mana saya tahu. Boro-boro mikirin puisinya Iim, urusan saya aja nggak kelar-kelar…”

Sebelum acara itu, saya ketemu Gus Dur dan iseng saya tanyakan. “Iim kabarnya belakangan ini rajin bikin puisi ya, Gus?”

Gus Dur mengiyakan, dan menurut dia hal itu karena adiknya terpengaruh oleh seseorang. Orang itu, Gus Dur menyebut nama, suka menulis puisi. “Jadi, Iim juga nulis puisi,” katanya, dengan nada bahwa itu cuma kegiatan sporadis dan adiknya tidak akan berprofesi sebagai penyair.

***

Hasyim dikenal pintar sejak remaja. Di sekolah menengah, nilainya untuk mata pelajaran ilmu-ilmu alam selalu 10. Kepada sahabatnya di SMA 3 Jakarta, ia bilang dalam ujian berikutnya ia akan sengaja menjawab satu soal dengan salah. “Sekali-sekali gue pengen dapat nilai 9, dong,” katanya sambil terkekeh. “Bosen, dapat 10 terus.”

Ia juga mengejek kawan-kawan SMAnya yang membaca novel pop Harold Robbins, dan bukan biografi Gandhi atau John F. Kennedy yang suka ia tawarkan kepada mereka.

Dengan prestasi gemilang di SMA itu, Hasyim tak pernah menyelesaikan satu pun dari empat fakultas yang pernah disinggahinya, termasuk Fakultas Teknik dan Fakultas Psikologi. “Nggak cocok” adalah satu-satunya penjelasan dia untuk sikap kutu loncatnya dalam soal kuliah.

Jika didesak kenapa ia suka berpindah-pindah sekolah dan tiada satu pun yang diselesaikannya, jawabannya: “Nggak cocok aja” — dan tidak pernah pula mengungkapkan fakultas apa yang cocok baginya.

Rupanya Hasyim “nggak cocok” pula dalam urusan bisnis. Ia membangun usaha di berbagai bidang, termasuk bisnis perakitan senjata.

Ia juga mencoba memasuki dunia intelektual, antara lain dengan menerjemahkan sebuah karya S.H Nasr, yang terbit dengan judul “Islam dalam Cita dan Fakta” (Leppenas, 1981). Ia juga ikut menulis dalam kumpulan tulisan berjudul “Telikungan Kapitalisme Global dalam Sejarah Kebangsaan Indonesia” (LKIS).

Namun agaknya bukan karena kegiatan intelektual itu jika kemudian di depan namanya orang mencantumkan kiai haji (KH) — suatu gelar yang saya duga tidak disukainya karena ia merasa tak memenuhi kualifikasi personal apapun untuk gelar itu.

Dalam dua bulan terakhir saya mendengar ia dirawat untuk beragam penyakitnya. Saya tahu alamat rumahnya di Jakarta Selatan, tapi enggan mengunjunginya karena kuatir dia justeru sengaja menghindari teman-temannya.

Setelah sekian lama kami tak berjumpa atau bahkan sekadar bertegur sapa melalui telepon, pukul empat subuh tadi saya memastikan tidak akan pernah lagi minum kopi bersama Hasyim Wahid di kafe mana pun. Langkah anak Menteng yang punya banyak teman itu terhenti sebelum ulang tahun ke-67 pada 30 Oktober nanti.

Malam ini saya akan memutar beberapa lagu Metallica dan tentu saja juga The Beatles. Barangkali saya harus mencari lagi rekaman yang pernah dia berikan kepada saya: sebuah album Janis Joplin. ***

Penulis: Hamid Basyaib

Aktivis dan wartawan senior. Menerbitkan sejumlah buku tentang Islam, masalah masalah sosial, dan politik internasional. 

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here