Kelompok Antifasis /Al Jazzera

MATA INDONESIA, – Pakaiannya serba hitam. Beberapa orang menyamarkan identitas dengan menutup bagian wajah. Bukan gara gara pandemi Corona, namun itulah ciri khas Antifa, kelompok  yang dituding Presiden AS Donald Trump sebagai biang kekacauan kerusuhan di beberapa kota di Negeri Paman Sam ini.

Menurut BBC, walau tak jelas sistemnya, kelompok ini terorganisir di lapangan. Massa Antifa berpakaian hitam dikenal sebagai “blok hitam” yang berjibaku dengan polisi. Sedangkan ada juga “blok-makanan” yang bertugas memasok makanan dan air selama aksi protes berlangsung.

Antifa merupakan kelompok militan sayap kiri identik dengan kekerasan untuk mengenyahkan fasisme. Dalam aksinya antifa mempunyai rencana andalan yaitu ‘Nazi Punching’ atau serangan fisik terhadap orang yang memiliki ciri ideologi fasis.

Kelompok Antifa di Amerika Serikat tengah menjadi perbincangan setelah diancam dimasukkan ke daftar teroris oleh Trump. Dikutip dari New York Times, Antifa adalah singkatan dari anti-fasis. Kelompok ini tidak memiliki struktur organisasi dan markas, walau beberapa di antara mereka kerap rapat rutin di negara-negara bagian AS.

Misi mereka adalah membela kelompok minoritas yang tertindas dan menentang rasialisme. BBC mencatat, kelompok ini punya sejarah di Eropa dalam melawan fasisme pada 1920 dan 1930-an. Antifa modern, seperti diulas di buku “Antifa: The Anti-Fascist Handbook” muncul pada 1930-an untuk menentang kelompok neo-Nazi di Jerman.

Biasanya mereka muncul di acara-acara musik Skinhead untuk menentang pemahaman pro-Nazi. Pada awal 2000-an kelompok ini seakan mati suri. Baru muncul kembali di era pemerintahan Trump. Mereka sering muncul sebagai aksi tandingan dari kelompok sayap-kanan pembela Trump.

Walau bentuk Antifa masih sangat samar, tapi kelompok ini selalu identik dengan kekacauan dan vandalisme. Antifa dikenal melakukan protes dengan melakukan perusakan sarana publik dan toko-toko. Mereka identik dengan bom Molotov, batu, atau tongkat.

Scott Crow, mantan aktivis Antifa selama 30 tahun, kepada CNN mengatakan kekerasan yang mereka lakukan adalah bentuk pertahanan diri. Dia juga meyakini perusakan properti bukanlah bentuk kekerasan. ”Selalu ada tempat untuk kekerasan. Apakah ini dunia yang ingin kita tinggali? Tidak. Apakah ini dunia yang ingin kita ciptakan? Tidak. Tapi apakah kami akan melawan? Ya,” kata Crow.

Di Jerman anti-fasis pertama yaitu Antifaschistische Aktion (AA) dibentuk oleh Kommunistche Partei Deutschlands (Partai Komunis Jerman) pada 10 Juli 1932. Max Keilson dan Max Gebhard, dua seniman Jerman yang tergabung dalam Asosiasi Seniman Revolusioner Jerman menciptakan logo bendera merah hitam.

Adapun beberapa kelompok anti-fasis lain di Jerman seperti Roter Frontkampferbund dan Communist Kampfbund gegen den Faschismus. Kelompok ini tumbuh seiring maraknya serangan paramiliter Nazi yang mengarah ke kalangan kiri, minoritas Yahudi, dan kaum buruh.

Anti-fasis pun berkembang di Amerika pada periode yang kurang lebih sama seperti di Jerman. Mereka datang untuk menumbangkan organisasi pro-Nazi di Amerika. Sejak Perang Dunia II berakhir, sindikat anti-fasis terus menyebar, membesar, dan terus berlipat ganda. Di Inggris, Antifa tumbuh pada akar punk rock melawan otoritas skinhead kulit putih dan neo-Nazi. Di Indonesia pun kelompok Antifa lahir dan mengikuti aksi demonstran yang dilakukan oleh masyarakat.

Di Amerika semenjak pemerintahan Donald Trump, Antifa mencuat ke permukaan kembali, pada 2017 mereka bentrok dengan pendukung militan Donald Trump di aksi ‘Charlottesville Unite the Right’.

Tahun 2018 Antifa mengacak-acak aksi bertajuk “Unite the Right 2” di Washington DC yang diselenggarakan kelompok sayap kanan pendukung supremasi kulit putih.

Pada tahun 2019 bentrok kelompok sayap kanan dan kelompok Antifa terulang di aksi “Akhiri Terorisme Domestik”.

Ideologi anti-fasisme sampai sekarang terus tersebar di seluruh dunia. Menurut BBC, ide anti-fasisme yaitu membela rakyat yang tertindas dan mereka menyasar kalangan serupa dengan kaum Nazi: anti kulit berwarna, anti-muslim, supremasi kulit putih, kapitalisme, dan ekstrem kanan.

Penulis: Alvin Aditya S

Mahasiswa Jurnalistik FIKOM 

Universitas Islam Bandung

Angkatan 2016

 

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here