MATA INDONESIA, “Yeay…hari kemerdekaan akan segera tiba.” Semangatku saat tiba bulan Agustus lalu.

Pada tahun sebelumnya segala persiapan untuk menyambut kemerdekaan dengan berbagai macam perlombaan dari tingkat RT sampai daerah, seremonial resmi maupun perayaan tasyakuran direncanakan secara matang dan semarak. Namun melihat keadaan yang masih dimasa pandemi, atau masa normal baru bukan lagi murni membuat di setiap penjuru Bumi Pertiwi terharu biru untuk menyambut hari kemerdekaan Indonesia.

Seakan ikut bermelodi dan bernostalgia akan kebahagiaan dan rasa syukur tiada tara setelah lamanya menguras jua, darah, dan tetesan keringat. Maka tak heran bila masyarakat mengambil sikap bersorak ria akan kebahagiaan ini, bahkan mengusung konsep perayaan hari kemerdekaan dengan berbagai macam tema, diantaranya bendera Merah Putih, secara simbolik menandakan perjuangan dan kesucian, menonjolkan kearifan lokal masing-masing daerah, serta hal yang tak kalah penting lomba panjat pinang. Lomba ini sangat digemari karena sebagai wujud perjuangan untuk menggapai tujuan, ya benar saja tujuan kemerdekaan setelah begitu lamanya dijajah.

Sekali lagi di era New Normal yang masih saja Si Corona berada di tengah-tengah kita. Mengulang kembali euforia dulu seakan menjadi mimpi yang terbngkus sesal di kalbu. Sejenak aku tertegun dan berpikir bahwa masih ada cara lain. Pergolakan batin menguat, dan kembali lagi aku menggerutu, ”Pasti tidak asyik, tidak ada kemeriahan dan kebersamaan saat berlomba ataupun sekadar menontonnya saja.”

Hati lain berbisik. “Benar sekali sekarang hanya bisa dilakukan di rumah saja tanpa berkerumunan banyak orang.“ Sebenarnya hal semacam ini sudah terlalui selama empat bulan lalu, dan aku masih tertawa, bersukur, dan bahagia. Jadi bukan menjadi suatu alasan bahwa tidak ada lomba bukan berarti tidak bahagia.

Akhirnya aku memunculkan ide. Aku diajak ayahku yang sudah cukup berumur itu untuk membuat galah bendera sendiri yang nanti akan ditancapkan di depan halaman rumah. Melihat semua tetanggaku sudah memasang tiang benderanya, jadi naluri nasionalismeku tergugah tapi kali ini akan dilakukan dengan cara berbeda. Begitu antusiasnya diriku saat ayah menaka ke kebun milik paman yang ada bambunya, biasanya ayah hanya memakai galah lama yang usang. Seharian itu kulalui hanya untuk mengambil bambu dan menyisiknya. Terlihat bambunya sudah rapi maka djemur biar kuat dan lebih mengkilap. Hari ini kututup dengan menjemurkan bambu.

Keesokan harinya tak terasa sudah H-10 kemerdekaan. Kali ini ayah membuat dasaran untuk nanti ditancapkan, karena biasanya hanya ditancap langsung di tanah, kini dibuat sedikit berbeda dengan menggunakan bahan bangunan.

Sebelum itu terlebih dahulu dipersiapkan segala bahan material, seperti: pasir, batu kerikil, air, dan semen. Aku hanya mengikuti langkah-langkah yang diajarkan ayah. Aku dan ayah berjibaku menyelesaikan misi ini. Kami berdua juga dibantu keponakan ayah yang berusia belasan tahun. Untungnya di samping rumah terdapat tanah lapang sekitar 200 meter milik saudara ayah.

Tahu tidak langkah pertamanya apa? pertama mencampurkan semua bahan tadi di wadah yang disediakan, yakni baskom ukuran sedang. Lalu diaduk sampai rata jangan lupa bahannya tidak encer tapi padat. Selepas itu didiamkan sebentar lalu dibuat lubang ditengah adonan tadi. Langkah terakhir dikeringkan.

Hampir dua hari menanti kerasnya adonan itu kata ayah biar luat dan tahan angin. Aku hanya mengangguknya pertanda setuju. Apa yang menjadi keseruannya?ya benar sekali, memasang bendera di tiangnya. Sebelum itu sudah aku persiapkan benderanya dan kusetrika terlebih dahulu.

Ayah memasang bendera ke galah sebagai tiangnya terlebih dahulu. Lalu dimasukkan ke adonan lubang tadi. Hal seru terjadi kembali ayah lupa mengukur ukuran galahnya sehingga mengakibatkan lubangnya tak muat untuk galah. Akhirnya dengan penuh menyesal dan bersemangat kami membuatnya lagi pasti dengan ukuran galahnya.

Seharian itu matahari cukup terik sekitar siang hari sudah bisa dimasukkan galahnya, iya tepat sekali tiangnya tadi sudah masuk dan dikibarkanlah bendera Merah Putih tadi. Syukur kami panjatkan, perjuangan demi perjuangan untuk mengenang jasa pahlawan kemerdekaan. Sungguh aku merasa kerdil begitu hebat dan tangguhnya memberikan hadiah kemerdekaan, tak bisa dibayangkan bila aku menemui masa itu. Sekarang negeri ini diberi cobaan wabah atau pandemi bernama covid’ 19. Daya upaya lapisan masyarakat turut serta demi menghadapinya. Tak masalah hari kemerdekaan tak ada perlombaan karena aku sedang berlomba memerangi nafsu dan memenangkan diriku dalam berbagai tantangan. Itulah sejatinya perlombaan. Selamat hari kemerdekaan.

Penulis: Mu’ayyadah

FB: @Azzahra Muza
Ig :@mayamuza27

2 KOMENTAR

BERIKAN #KomenPositif DI ARTIKEL BERITA INI

Please enter your comment!
Please enter your name here